OpiniWanita PUI

Muharam, Hijrah Keluarga dan Masa Depan Ummat

Refleksi Tahun Baru Hijriah 1448 H

oleh Rita Juniarty.

Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI.

Setiap kali Muharam datang, umat Islam kembali diingatkan pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, apakah hijrah hanya sebatas peristiwa sejarah yang selalu kita kenang setiap tahun? Ataukah hijrah merupakan panggilan berulang untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan kita?

Bagi keluarga besar Persatuan Ummat Islam (PUI), makna hijrah tidak dapat dipisahkan dari semangat Intisab sebagai landasan idiil dan agenda besar Ishlah al-Tsamaniyah sebagai landasan operasional. Sebab hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari masyarakat yang tercerai-berai menuju masyarakat yang berperadaban.

Karena itu, memasuki Tahun Baru Hijriah 1448 H, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya berapa tahun usia kita bertambah, tetapi sejauh mana kualitas kehidupan kita berubah. Dan bagi kita yang bergerak dalam bidang ketahanan keluarga, pertanyaan itu menjadi lebih mendasar: sudahkah keluarga-keluarga kita ikut berhijrah?

Pertanyaan ini penting karena masa depan umat tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk perlahan, setiap hari, melalui keluarga. Pemimpin masa depan sedang tumbuh di rumah-rumah kita. Ulama masa depan sedang belajar berbicara dari orang tuanya. Pendidik masa depan sedang mengamati cara ayah dan ibunya menyelesaikan masalah. Bahkan karakter generasi mendatang sedang dibentuk melalui pola pengasuhan yang kita lakukan hari ini.

Namun ironisnya, ketika berbicara tentang kebangkitan umat, perhatian kita sering tertuju pada persoalan besar: politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, atau kepemimpinan. Kita mengadakan seminar tentang generasi unggul, berdiskusi tentang masa depan bangsa, dan berbicara tentang kebangkitan peradaban. Tetapi kapan terakhir kali kita duduk bersama keluarga tanpa gangguan gawai? Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan isi hati anak-anak kita? Dan kapan terakhir kali kita mengevaluasi kualitas komunikasi dalam keluarga kita sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa sederhana, tetapi justru di situlah akar persoalannya.

Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madrasah pertama bagi lahirnya generasi.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari No. 1358; Muslim No. 2658).

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang membentuk arah keyakinan dan kepribadiannya. Apa yang ditanamkan dalam keluarga hari ini akan menentukan wajah umat di masa depan. Berbagai penelitian pun menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter, perilaku sosial, serta keberhasilan pendidikan anak (Lickona, 2012; Olson & DeFrain, 2017). Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan umat, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kualitas keluarga hari ini.

Kesadaran inilah yang sejak lama menjadi bagian dari pandangan perjuangan PUI. Melalui Intisab, PUI menanamkan nilai keikhlasan, pengorbanan, persaudaraan, dan perjuangan sebagai fondasi gerakan (PUI, 2015). Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh begitu saja di tengah masyarakat. Ia tumbuh melalui proses pendidikan yang dimulai dari keluarga.

Seorang anak tidak belajar keikhlasan pertama kali dari buku. Ia belajar dari orang tuanya. Seorang anak tidak memahami arti pengorbanan dari teori. Ia melihatnya dari kehidupan keluarganya. Begitu pula dengan disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan semangat perjuangan. Semua nilai tersebut pertama kali dikenalkan dan dibiasakan dalam keluarga.

Pandangan ini sejalan dengan konsep Ishlah al-Tsamaniyah yang menjadi ciri khas gerakan PUI. Delapan agenda perbaikan tersebut meliputi perbaikan aqidah, ibadah, pendidikan, keluarga, adat dan budaya, masyarakat, ekonomi, serta umat dan kehidupan kebangsaan (PUI, 2015). Delapan perbaikan tersebut bukan agenda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan dan saling menguatkan.

Di sinilah letak pentingnya Ishlah al-‘Ailah atau perbaikan keluarga. Bukan karena keluarga lebih tinggi daripada tujuh perbaikan lainnya, tetapi karena keluarga merupakan ruang pertama tempat seluruh agenda perbaikan itu mulai bertumbuh. Aqidah ditanamkan dalam keluarga. Ibadah dibiasakan dalam keluarga. Pendidikan dimulai dalam keluarga. Budaya diwariskan melalui keluarga. Kepedulian sosial dibangun dari keluarga. Bahkan etos kerja dan kemandirian ekonomi pertama kali dipelajari dalam keluarga.

Dengan kata lain, keluarga adalah titik awal tempat benih-benih Ishlah al-Tsamaniyah ditanamkan. Jika keluarga kuat, maka agenda perbaikan umat memiliki lahan yang subur untuk tumbuh. Sebaliknya, jika keluarga rapuh, maka berbagai agenda perbaikan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.

Sayangnya, keluarga hari ini sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan telah mengubah pola hidup masyarakat secara drastis. UNESCO (2024) mengingatkan bahwa transformasi teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan kapasitas individu agar teknologi menjadi sarana kemajuan, bukan sumber masalah baru.

Kita menyaksikan banyak orang tua yang bekerja keras demi masa depan anak-anaknya, tetapi kesulitan menyediakan waktu untuk mendampingi mereka. Kita melihat anak-anak yang memiliki akses informasi tanpa batas, tetapi minim bimbingan dalam menyaring informasi tersebut. Kita menemukan keluarga yang tinggal di bawah satu atap, tetapi masing-masing hidup dalam dunia digitalnya sendiri.

UNICEF (2021) bahkan menunjukkan bahwa perubahan sosial dan digitalisasi yang cepat turut memengaruhi kesehatan mental, kualitas relasi, dan kesejahteraan anak-anak serta remaja. Karena itu, tantangan keluarga masa kini tidak lagi sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan komunikasi, pengasuhan, karakter, dan ketahanan nilai.

Dalam situasi seperti ini, ketahanan keluarga tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan bertahan hidup. Ketahanan keluarga adalah kemampuan menjaga nilai-nilai agama, membangun komunikasi yang sehat, menghadirkan kasih sayang, menyelesaikan konflik secara dewasa, serta menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Momentum Muharam 1448 H hendaknya menjadi titik awal hijrah keluarga secara lebih nyata. Hijrah dari pola pengasuhan yang reaktif menuju pengasuhan yang terencana. Hijrah dari komunikasi yang minim menuju komunikasi yang hangat. Hijrah dari keluarga yang hanya mengejar prestasi akademik menuju keluarga yang juga menanamkan akhlak, adab, dan ketangguhan mental.

Bagi Wanita PUI, refleksi ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Muharam harus menjadi momentum untuk memperkuat gerakan nyata sebagaimana arah kebijakan dan Rencana Strategis Wanita PUI. Penguatan literasi keluarga, pendampingan keluarga muda, pendidikan pengasuhan berbasis nilai Islam, literasi digital keluarga, kesehatan mental keluarga, dan pemberdayaan ekonomi keluarga perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar membangun keluarga yang tangguh.

Sebab keluarga yang kuat akan melahirkan perempuan yang berdaya. Perempuan yang berdaya akan melahirkan generasi yang berkarakter. Dan generasi yang berkarakter akan menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang bermartabat.

Akhirnya, Tahun Baru Hijriah 1448 H mengingatkan kita bahwa hijrah sejati tidak berhenti pada pergantian kalender. Hijrah harus melahirkan perubahan. Dan perubahan yang paling mendasar adalah perubahan yang dimulai dari keluarga.

Muharam tahun ini hendaknya tidak hanya menjadi momentum untuk saling mengucapkan selamat tahun baru. Muharam harus menjadi momentum lahirnya komitmen baru: menghadirkan rumah yang lebih hangat, pengasuhan yang lebih sadar, komunikasi yang lebih sehat, dan keluarga yang lebih siap melahirkan generasi penerus perjuangan.

Sebab kebangkitan umat yang kita cita-citakan tidak sedang dipersiapkan di ruang-ruang besar atau panggung-panggung megah. Kebangkitan itu sedang dipersiapkan hari ini, di rumah-rumah kita.

Maka pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama memasuki 1448 H adalah:

Jika masa depan umat sedang dipersiapkan di rumah kita, perubahan apa yang akan kita mulai dari keluarga kita hari ini?

Related Articles

Back to top button