REKREASI KELUARGA BUKAN SEKADAR JALAN-JALAN
Pariwisata sebagai Ruang Menguatkan Kualitas Relasi Keluarga

Refleksi Hari Pariwisata Sedunia, 27 September
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Ketika mendengar kata pariwisata, yang terbayang biasanya perjalanan ke tempat indah, hotel, kuliner, pantai, pegunungan, atau foto keluarga di destinasi terkenal.
Bagi sebagian keluarga, rekreasi bahkan dipandang sebagai kebutuhan tambahan: dilakukan jika ada waktu dan biaya. Padahal perjalanan bersama keluarga dapat mempunyai makna lebih dalam. Di tengah rutinitas kerja, sekolah, pekerjaan rumah tangga, dan kesibukan dengan gawai, rekreasi menyediakan sesuatu yang semakin berharga: waktu untuk benar-benar hadir bersama keluarga.
Setiap 27 September, dunia memperingati Hari Pariwisata Sedunia (World Tourism Day). Organisasi Pariwisata Dunia menetapkannya pada 1979 dan peringatan pertama berlangsung pada 1980. Tanggal 27 September dipilih karena menandai adopsi Statuta Organisasi Pariwisata Dunia pada 27 September 1970 (United Nations, n.d.).
Bagi keluarga, peringatan ini dapat dimaknai lebih dekat: apakah perjalanan dan rekreasi yang kita lakukan benar-benar memperkuat hubungan keluarga, atau hanya memindahkan kesibukan dari rumah ke tempat wisata?
Keluarga Membutuhkan Waktu Bersama
Keluarga tidak hanya membutuhkan rumah yang sama, tetapi juga pengalaman bersama. Tinggal satu atap belum tentu membuat anggota keluarga benar-benar terhubung. Ayah dapat sibuk dengan pekerjaan, ibu dengan berbagai tanggung jawab, dan anak dengan sekolah serta gawainya. Mereka berada dalam rumah yang sama, tetapi dapat hidup dalam dunia masing-masing.
Penelitian mengenai family leisure memberikan perspektif menarik. Core and Balance Model of Family Leisure Functioning menjelaskan dua bentuk rekreasi keluarga. Core leisure merupakan kegiatan sederhana, rutin, dan umumnya berbiaya rendah, seperti makan, bermain, atau melakukan aktivitas bersama di rumah. Sementara balance leisure menghadirkan pengalaman yang lebih baru dan tidak rutin, termasuk perjalanan, wisata alam, dan kegiatan budaya (Zabriskie & McCormick, 2001).
Keduanya penting. Aktivitas rutin membantu membangun kedekatan dan stabilitas, sedangkan pengalaman baru memberi kesempatan kepada keluarga untuk beradaptasi dan menghadapi situasi berbeda.
Tinjauan sistematis terhadap penelitian mengenai model tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan dalam rekreasi keluarga berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan dan fungsi keluarga (Townsend et al., 2017). Penelitian terhadap 265 wisatawan keluarga juga menemukan bahwa liburan keluarga berkontribusi positif terhadap bonding, komunikasi, dan solidaritas keluarga (Lehto et al., 2009).
Artinya, perjalanan dapat menjadi ruang relasional, bukan sekadar perpindahan geografis.
Bukan Seberapa Jauh Kita Pergi
Temuan tersebut penting agar rekreasi keluarga tidak berubah menjadi perlombaan destinasi.
Kualitas rekreasi tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh keluarga pergi atau seberapa mahal biaya yang dikeluarkan. Berjalan bersama di taman, mengunjungi museum, piknik sederhana, berwisata ke tempat bersejarah, atau mengunjungi keluarga besar dapat menghadirkan kebersamaan yang bermakna.
Yang menentukan adalah kualitas interaksi yang terjadi di dalamnya.
Smith et al. (2009) menemukan bahwa komunikasi keluarga menjadi mediator dalam hubungan antara rekreasi dan fungsi keluarga. Dengan kata lain, bukan hanya aktivitas rekreasinya yang penting, tetapi interaksi yang tumbuh selama kebersamaan tersebut.
Karena itu, ironis apabila keluarga telah menempuh perjalanan ratusan kilometer, tetapi sepanjang perjalanan setiap orang sibuk dengan layar. Datang ke destinasi bersama, tetapi percakapan hanya terjadi ketika menentukan tempat makan atau mengambil foto.
Rekreasi keluarga seharusnya menyediakan kesempatan untuk kembali saling mendengar. Anak mungkin menceritakan sesuatu yang tidak sempat disampaikan di rumah. Ayah dan ibu dapat berbicara tanpa terus dikejar pekerjaan. Kakak dan adik belajar berkompromi. Bahkan pengalaman sederhana seperti terlambat, hujan, tersesat, atau perubahan rencana dapat menjadi latihan kesabaran dan kerja sama.
Perjalanan dalam Perspektif Islam
Islam tidak memandang perjalanan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan spiritual. Al-Qur’an mengajak manusia berjalan di bumi dan mengambil pelajaran darinya:
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan….’” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 20).
Perjalanan dapat menjadi ruang tafakkur: mengenali kebesaran Allah melalui alam, sejarah, keberagaman manusia, dan kehidupan masyarakat yang dijumpai.
Semangat tersebut dapat dipertemukan dengan fondasi relasi keluarga dalam Al-Qur’an:
“Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang” (QS. Ar-Rūm [30]: 21).
Mahabbah dan raḥmah tentu tidak tumbuh hanya melalui perjalanan wisata. Namun keduanya perlu dipelihara melalui perhatian, komunikasi, pengalaman bersama, dan kehadiran emosional.
Rasulullah ﷺ juga memberikan gambaran tentang kegembiraan dalam relasi keluarga. ‘Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa ia pernah berlomba lari dengan Rasulullah ﷺ. Pada kesempatan pertama ‘Aisyah menang. Ketika kemudian Rasulullah ﷺ menang, beliau bersabda, “Ini sebagai balasan atas kemenanganmu dahulu” (Abu Dawud, n.d., Hadis No. 2578).
Peristiwa sederhana tersebut memperlihatkan bahwa hubungan keluarga membutuhkan ruang untuk bermain, bergembira, dan membangun kedekatan. Kehangatan bukanlah lawan dari kesalehan.
Rekreasi dan Maqāṣid al-Syarī‘ah
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, rekreasi keluarga yang sehat dapat ditempatkan sebagai sarana menuju kemaslahatan. Ia dapat mendukung ḥifẓun nafs melalui istirahat dan pemulihan; ḥifẓul ‘aql melalui pengalaman dan pengetahuan; ḥifẓun nasl melalui penguatan hubungan antargenerasi; serta ḥifẓud dīn ketika perjalanan menjadi ruang syukur dan tafakkur atas ciptaan Allah.
Namun maqāṣid juga menuntun keluarga kepada keseimbangan. Rekreasi jangan berubah menjadi isrāf. Allah mengingatkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A‘rāf [7]: 31).
Keluarga tidak perlu berutang hanya untuk terlihat sedang berlibur. Tidak perlu memaksakan destinasi mahal demi konten media sosial. Rekreasi yang mendukung ketahanan keluarga justru mempertimbangkan kemampuan finansial, keamanan, kesehatan, kebutuhan anggota keluarga, nilai pendidikan, dan kelestarian lingkungan.
Membawa Pulang Lebih dari Foto
Pariwisata memiliki dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. PBB mencatat bahwa sektor pariwisata mempekerjakan sekitar satu dari sepuluh orang di dunia (United Nations, n.d.). Namun pada tingkat keluarga terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting: relasi.
Karena itu, sebelum merencanakan perjalanan, keluarga dapat mengubah pertanyaannya. Bukan hanya, “Kita mau pergi ke mana?” tetapi “Kebersamaan seperti apa yang ingin kita bangun?”
Libatkan anak dalam menentukan kegiatan. Kurangi penggunaan gawai pada waktu tertentu. Ciptakan percakapan selama perjalanan. Kenalkan anak kepada alam, sejarah, budaya masyarakat setempat, sekaligus kebesaran Allah yang dapat dipelajari dari setiap tempat.
Hari Pariwisata Sedunia akhirnya mengingatkan kita bahwa perjalanan keluarga yang berhasil bukan sekadar perjalanan yang menghasilkan banyak foto.
Pariwisata keluarga menjadi bermakna ketika kita pulang bukan hanya membawa oleh-oleh, tetapi membawa hubungan yang lebih dekat, percakapan yang lebih hangat, pengalaman yang dikenang bersama, dan rasa syukur yang lebih dalam.
Ketahanan keluarga tidak selalu dibangun melalui percakapan serius di ruang keluarga. Kadang ia tumbuh dalam perjalanan: ketika keluarga tertawa bersama, menghadapi perubahan rencana bersama, menemukan tempat baru bersama, dan yang terpenting kembali menemukan satu sama lain.



