OpiniWanita PUI

SEBELUM PERCAYA AI, AJARKAN ANAK BERTANYA

Literasi AI Dimulai dari Kemampuan Memeriksa Jawaban

Refleksi Pekan Literasi Media dan Informasi Global, 30 Oktober 2026

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Seorang anak bertanya kepada kecerdasan buatan (AI), “Mengapa semua anak lebih suka belajar menggunakan AI daripada membaca buku?”

AI menjelaskan bahwa teknologi menawarkan jawaban cepat, tampilan menarik, dan bantuan interaktif. Ayahnya lalu bertanya, “Benarkah semua anak lebih suka belajar menggunakan AI daripada membaca buku?”

Anak itu terdiam. Ia menyadari bahwa kata “semua” merupakan anggapan yang belum dibuktikan, bukan fakta yang sudah diketahuinya.

Mereka kemudian mengubah pertanyaan menjadi, “Apa kelebihan dan keterbatasan belajar menggunakan AI dibandingkan membaca buku?” Pertanyaan baru membuka pembahasan lebih berimbang tanpa menganggap salah satu sarana pasti lebih disukai.

Percakapan tersebut memperlihatkan persoalan penting: jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu berangkat dari pertanyaan yang tepat. Pendidikan literasi AI perlu dimulai sebelum anak menekan tombol kirim.

Pertanyaan Membentuk Arah Jawaban

UNICEF pada Juni 2026 melaporkan bahwa analisis data sepuluh negara memperkirakan sedikitnya 20 juta anak telah menggunakan AI. Diperkirakan 13 juta anak memanfaatkannya untuk belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan lebih dari dua juta meminta nasihat mengenai kekhawatiran mereka (UNICEF, 2026). Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan negara yang diteliti, bukan seluruh dunia.

Pekan Literasi Media dan Informasi Global UNESCO, 24–31 Oktober 2026, mengangkat tema “We All Play a Part – Media and Information Literacy for the People” (UNESCO, 2026). Tema tersebut menegaskan tanggung jawab bersama, termasuk keluarga, dalam membangun literasi informasi.

Anak tidak cukup mengetahui cara mengetik perintah. Mereka perlu memahami bahwa pilihan kata, asumsi tersembunyi, dan konteks dapat menentukan persoalan yang akhirnya dijawab mesin.

Ketika Kata Mengubah Respons

Model bahasa generatif menghasilkan respons berdasarkan masukan pengguna, konteks percakapan, dan pola yang dipelajari selama pelatihan. Karena itu, perubahan rumusan pertanyaan dapat memengaruhi respons.

Chatterjee dan kolega (2024), melalui penelitian POSIX, mengkaji sensitivitas model bahasa terhadap variasi pertanyaan yang mempertahankan maksud. Mereka menunjukkan bahwa perubahan redaksi dapat memengaruhi respons, dengan tingkat sensitivitas berbeda menurut model dan tugas.

Namun, perubahan respons tidak selalu berarti kesalahan. Hua dan kolega (2025) mengevaluasi tujuh model pada enam tolok ukur dan menemukan bahwa sebagian kesan sensitivitas tinggi berasal dari metode penilaian yang terlalu kaku terhadap variasi ungkapan. Ketika kesetaraan makna diperhitungkan, perbedaan kinerja terukur dapat berkurang.

Dengan demikian, keluarga perlu membedakan perubahan kata, perubahan makna, dan perubahan ketepatan informasi. Dua jawaban dapat menggunakan kalimat berbeda tetapi menyampaikan informasi setara. Sebaliknya, pertanyaan dengan asumsi keliru dapat menghasilkan uraian meyakinkan mengenai persoalan yang sejak awal dirumuskan secara tidak tepat.

Anak sebagai Penyelidik Pertanyaan

Perhatikan dua pertanyaan: “Mengapa tanaman membutuhkan air?” dan “Bagaimana jumlah air memengaruhi pertumbuhan tanaman cabai dalam pot?” Pertanyaan pertama meminta penjelasan umum; pertanyaan kedua memperjelas objek dan hubungan yang ingin dipelajari.

Anak dapat menambahkan konteks: “Bagaimana jumlah air memengaruhi pertumbuhan tanaman cabai dalam pot yang mendapat sinar matahari pagi?” Tambahan informasi mungkin mengubah jawaban, tetapi tidak otomatis menjamin ketepatannya.

Agar percobaan bermakna, anak mengubah satu unsur pertanyaan setiap kali, mempertahankan unsur lainnya, lalu membandingkan isi respons. Orang tua membantu membedakan perubahan gaya bahasa dari perubahan informasi yang substantif.

Versi model, pengaturan sistem, dan riwayat percakapan juga dapat memengaruhi hasil. Karena itu, catatan percobaan sebaiknya mencantumkan aplikasi, tanggal, pertanyaan lengkap, serta penggunaan percakapan baru. Satu percobaan sederhana tidak cukup untuk menilai keandalan seluruh teknologi AI.

UNESCO dalam AI Competency Framework for Students (2024) merumuskan dua belas kompetensi melalui empat dimensi: perspektif berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan penerapan AI, serta perancangan sistem AI. Tahap perkembangannya meliputi memahami, menerapkan, dan mencipta. Eksperimen pertanyaan merupakan penerapan pendidikan untuk mengenali perilaku teknologi, bukan sekadar menerima hasilnya.

Anak juga perlu membandingkan informasi AI dengan buku pelajaran, pengamatan, atau penjelasan guru. Jika terdapat perbedaan, ia dibimbing memeriksa sumber dan mengakui hal yang belum dapat dipastikan. Dengan demikian, percobaan pertanyaan menjadi latihan mencari pemahaman, bukan sekadar mengamati perilaku mesin.

Adab Bertanya dalam Islam

Allah SWT berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Naḥl [16]: 43). Ibnu Katsir menjelaskan konteks ayat tersebut mengenai pertanyaan kepada ahli kitab tentang para rasul terdahulu. Prinsip mencari penjelasan dari pihak berpengetahuan dapat diterapkan dalam pendidikan keluarga tanpa menyamakan AI dengan ahli ilmu.

Allah juga mengajarkan doa, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku” (QS. Ṭāhā [20]: 114). Ibnu Katsir menekankan keutamaan ilmu, sedangkan As-Sa‘di dalam tafsir ayat tersebut menguraikan pentingnya memahami penjelasan secara utuh dan tidak tergesa-gesa.

Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb al-‘Ilm, membahas adab penuntut ilmu. Prinsip ini dapat diterapkan melalui kebiasaan bertanya dengan jelas, menghindari dugaan tanpa dasar, dan bersedia memperbaiki pertanyaan.

Memelihara Akal, Memperkuat Keluarga

Dalam maqāṣid al-syarī‘ah, ketelitian bernalar sejalan dengan ḥifẓ al-‘aql, yaitu pemeliharaan akal. Al-Syathibi dalam Al-Muwāfaqāt menempatkan pemeliharaan akal sebagai salah satu kebutuhan pokok syariat.

Penerapannya pada eksperimen pertanyaan AI merupakan pengembangan pendidikan kontemporer, bukan pernyataan langsung Al-Syathibi mengenai teknologi.

Bagi Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI, penerapan Ishlahuts Tsamaniyah mencakup Iṣlāḥ al-‘Aqīdah (perbaikan akidah) yang meneguhkan tauhid serta kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia dan AI; Iṣlāḥ at-Tarbiyah (perbaikan pendidikan) yang membina ketelitian intelektual dan kerendahan hati dalam mencari ilmu; Iṣlāḥ al-‘Āilah (perbaikan keluarga) yang memperkuat pendampingan orang tua; serta Iṣlāḥ al-Mujtama‘ (perbaikan masyarakat) yang mendorong pemanfaatan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

Gerakan TANYA DULU

Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI menginisiasi Gerakan TANYA DULU, laboratorium pertanyaan AI keluarga dengan empat tahap: Teliti asumsi, Atur konteks, Nyatakan pertanyaan pembanding, dan YAkinkan kesimpulan berdasarkan pengamatan.

Pekan pertama, anak menemukan generalisasi seperti “semua” atau “selalu”. Pekan kedua, ia menambahkan konteks relevan. Pekan ketiga, ia mengubah satu unsur pertanyaan dan mencatat respons. Pekan keempat, ia menjelaskan apakah perbedaan terletak pada redaksi, makna, atau ketepatan informasi.

Pendamping menilai empat kemampuan: mengenali asumsi, memilih konteks, membuat perbandingan terkendali, dan menjelaskan keterbatasan temuan. Setiap indikator diberi skor nol jika belum tampak, satu jika memerlukan bantuan, dan dua jika mandiri. Skor maksimal delapan; perkembangan dibandingkan melalui tugas awal dan akhir yang setara.

Rubrik tersebut merupakan rancangan evaluasi pembelajaran, bukan instrumen psikologis baku atau bukti efektivitas program. Kegiatan disesuaikan dengan usia, menggunakan topik aman, dan tidak memasukkan data pribadi.

Kebaruan program ini bukan mengajari anak mendapatkan jawaban yang terdengar bagus. Anak dilatih menyelidiki bagaimana pertanyaan membentuk respons dan mengapa kesimpulan harus disampaikan secara hati-hati.

Dari Jawaban Menuju Pemahaman

AI dapat menyajikan penjelasan cepat, tetapi manusia tetap bertanggung jawab merumuskan persoalan yang ingin dipahami. Keluarga dapat memulai dengan pertanyaan sederhana: “Apa yang sebenarnya ingin kamu ketahui?”

Sebelum percaya AI, ajarkan anak bertanya dengan tepat, mengenali asumsi, dan memahami mengapa jawaban mesin dapat berubah.

Related Articles

Back to top button