Masihkah Keluarga Kita Berpikir?
Literasi dan Kedaulatan Kognitif Keluarga di Era AI

Refleksi Hari Literasi Internasional, 8 September
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Ada perubahan kecil yang mungkin tidak kita sadari sedang terjadi di dalam rumah.
Dahulu, ketika anak bertanya, “Mengapa langit berwarna biru?”, orang tua mencoba menjawab. Kadang benar, kadang kurang tepat. Percakapan kemudian berkembang dan keduanya mencari jawaban bersama.
Hari ini jawabannya bisa berbeda: “Cari di internet.” Bahkan semakin lazim: “Tanya AI saja.”
Ketika membutuhkan informasi kesehatan, kita membuka media sosial. Ketika anak mendapat tugas, AI dapat membantu menyelesaikannya. Ketika orang tua menghadapi persoalan pengasuhan, algoritma menawarkan ratusan video.
Teknologi memberi keluarga akses pengetahuan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Ironisnya, ketika jawaban semakin mudah ditemukan, proses berpikir pun semakin mudah diserahkan kepada pihak lain.
Maka pada Hari Literasi Internasional 8 September, pertanyaannya bukan sekadar apakah keluarga kita gemar membaca.
Masihkah keluarga kita berpikir?
Dari Kekurangan Informasi Menuju Banjir Informasi
Hari Literasi Internasional diproklamasikan UNESCO pada 1966. Tahun 2026 menandai enam dekade peringatan tersebut dengan tema Literacy for People, the Planet and Prosperity (UNESCO, 2026a).
Tingkat literasi global telah mencapai sekitar 88 persen pada orang dewasa dan 93 persen pada kelompok muda. Namun sedikitnya 739 juta orang dewasa masih belum memiliki keterampilan literasi dasar (UNESCO Institute for Statistics [UIS], 2026).
Pekerjaan lama belum selesai, tetapi persoalan baru sudah datang.
Dahulu, salah satu persoalan literasi adalah kekurangan informasi. Hari ini jutaan keluarga menghadapi persoalan sebaliknya: banjir informasi.
WhatsApp, TikTok, YouTube, reels, berita daring, podcast, influencer, hingga AI memasuki rumah melalui benda kecil di genggaman.
Karena itu, definisi keluarga literat perlu berkembang.
Keluarga literat bukan lagi sekadar keluarga yang dapat membaca. Keluarga literat adalah keluarga yang tidak mudah dikendalikan oleh apa yang dibacanya.
Kedaulatan Kognitif Keluarga
Ketahanan keluarga sering dibicarakan melalui ekonomi, kesehatan, spiritualitas, relasi, dan pengasuhan. Semua itu penting.
Namun era digital menghadirkan kebutuhan baru yang dapat disebut kedaulatan kognitif keluarga: kemampuan keluarga mempertahankan kendali atas proses berpikirnya—mencari informasi, memahami, memverifikasi, berdialog, mempertimbangkan nilai, kemudian mengambil keputusan secara sadar.
Mengapa ini menjadi bagian dari ketahanan keluarga?
Sebab keputusan di rumah semakin dipengaruhi informasi digital. Cara mengasuh anak dapat berubah setelah menonton video satu menit. Pilihan makanan dipengaruhi influencer. Keputusan membeli barang diarahkan algoritma. Pandangan mengenai tubuh ideal, kesuksesan, pernikahan, bahkan agama dapat dibentuk oleh konten yang terus berulang.
Ancaman terhadap keluarga tidak selalu datang mengetuk pintu. Kadang ia masuk melalui layar yang kita bukakan sendiri.
Ḥifzul ‘Aql di Era Algoritma
Dalam perspektif Islam, kedaulatan kognitif memiliki titik temu kuat dengan ḥifzul ‘aql, salah satu tujuan maqāṣid al-syarī‘ah: menjaga akal.
Menjaga akal tidak cukup dipahami hanya sebagai menjauhkannya dari sesuatu yang merusak kesadaran. Akal juga harus digunakan untuk memahami, menimbang, dan membedakan.
Al-Qur’an mengajarkan tabayyun:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya….”
(QS. al-Ḥujurāt [49]: 6)
Prinsip tersebut semakin relevan ketika informasi dapat berpindah ke jutaan layar dalam hitungan detik.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
(QS. al-Isrā’ [17]: 36)
Pada era AI, ḥifzul ‘aql karena itu memperoleh konteks baru: menjaga agar manusia tidak kehilangan kebiasaan berpikir karena terlalu mudah menyerahkan proses berpikir kepada mesin.
AI Bukan Musuhnya
Menyalahkan AI terlalu sederhana.
AI dapat membantu anak memahami pelajaran, membantu orang tua memperoleh informasi, mendukung guru, dan membuka akses pengetahuan.
Persoalannya bukan apakah keluarga menggunakan AI, melainkan apakah AI membantu kita berpikir atau menggantikan kita berpikir.
Anak yang meminta AI menjelaskan konsep matematika lalu mencoba mengerjakannya sendiri menggunakan teknologi untuk belajar. Sebaliknya, anak yang menyalin seluruh jawaban tanpa memahaminya sedang mengalihdayakan proses belajarnya.
Demikian pula orang tua. Informasi pengasuhan dari internet dapat memperluas wawasan. Namun menerapkan setiap nasihat viral tanpa memeriksa sumber, nilai keluarga, dan konteks kehidupan dapat melemahkan kemampuan mengambil keputusan.
UNESCO menempatkan literasi di lingkungan digital lebih luas daripada kemampuan menggunakan perangkat. Kemampuan memahami, mengevaluasi, menciptakan, dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting (UNESCO, 2025).
Kata kuncinya bukan sekadar mengakses, tetapi mengevaluasi.
Meja Makan sebagai Laboratorium Literasi
Program literasi keluarga tidak selalu membutuhkan rak buku baru. Ia dapat dimulai dari meja makan.
Ketika anak mengatakan, “Bu, aku lihat di TikTok katanya begini,” jangan buru-buru menjawab, “Jangan percaya!”
Cobalah bertanya: “Siapa yang mengatakan?”, “Dari mana datanya?”, “Ada sumber lain?”, dan “Menurut kamu masuk akal tidak?”
Empat pertanyaan sederhana itu melatih berpikir kritis.
Freire dan Macedo (1987) mengembangkan gagasan bahwa literasi bukan hanya membaca the word, tetapi juga membaca the world—membaca kata sekaligus dunia.
Percakapan keluarga karena itu merupakan sekolah literasi pertama. Anak yang boleh bertanya belajar bahwa informasi dapat diuji. Orang tua yang berani berkata, “Ayah belum tahu, mari kita cari bersama,” mengajarkan kejujuran intelektual.
Ketika Kasih Sayang Menyebarkan Hoaks
Ada ironi lain. Keluarga merupakan tempat pertama pendidikan, tetapi grup keluarga terkadang menjadi tempat beredarnya informasi yang belum diverifikasi.
Pesannya sering berbunyi, “PENTING!”, “Sebarkan kepada keluarga tercinta!”, atau “Dokter tidak akan memberi tahu Anda tentang ini!”
Niatnya mungkin baik. Namun kasih sayang tanpa literasi dapat ikut menyebarkan kekeliruan.
Di sinilah tabayyun menjadi bentuk kasih sayang yang bertanggung jawab. Menahan jempol beberapa menit untuk memeriksa informasi bukan sekadar keterampilan digital, tetapi etika terhadap informasi.
Budaya sederhananya: saring sebelum sharing.
Warisan Bernama Kemerdekaan Berpikir
Anak-anak kita mungkin akan hidup bersama AI yang jauh lebih canggih. Kita tidak mungkin membekali mereka dengan seluruh pengetahuan yang kelak dibutuhkan.
Tetapi kita dapat mewariskan sesuatu yang lebih tahan lama: kebiasaan bertanya, melakukan tabayyun, memeriksa sumber, membaca mendalam, berdialog, menggunakan nilai agama sebagai kompas, dan berani mengatakan, “Saya belum yakin. Mari kita periksa.”
Mungkin salah satu warisan terbaik orang tua bukan hanya rumah, pendidikan, atau tabungan.
Tetapi kemerdekaan berpikir.
Di sinilah ḥifzul ‘aql bertemu dengan ketahanan keluarga abad ke-21. Menjaga akal hari ini bukan hanya memastikan akal tetap sehat, tetapi juga memastikan akal tetap digunakan.
Teknologi boleh semakin pintar. Mesin boleh semakin cepat membaca, menulis, merangkum, dan menjawab.
Tetapi jangan sampai kemudahan memperoleh jawaban membuat manusia kehilangan kemampuan mengajukan pertanyaan.
Sebab pada era kecerdasan buatan, keluarga yang paling tangguh mungkin bukan keluarga yang memiliki informasi paling banyak.
Melainkan keluarga yang tetap berdaulat atas pikirannya sendiri.



