OpiniWanita PUI

RUMAH BERSIH BUKAN SEKADAR URUSAN IBU

Pembagian Tanggung Jawab dalam Keluarga

Refleksi World Cleanup Day, 20 September

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI

Rumah yang bersih sering dianggap sebagai gambaran keluarga yang terawat. Lantai disapu, pakaian dicuci, dapur dibersihkan, dan sampah dibuang setiap hari. Namun, di balik rumah yang tampak bersih, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang bertanggung jawab menjaga semua itu?

Dalam banyak keluarga, kebersihan rumah masih identik dengan pekerjaan ibu. Ketika ruang berantakan, ibu yang membereskan. Ketika tempat sampah penuh, ibu yang mengingatkan. Ketika anak meninggalkan bungkus makanan, ibu pula yang memungutnya. Padahal semua anggota keluarga menggunakan rumah, menikmati kenyamanannya, sekaligus menghasilkan sampah.

World Cleanup Day yang diperingati setiap 20 September dapat menjadi momentum untuk melihat persoalan sampah dari ruang yang paling dekat dengan kita: keluarga. Membersihkan lingkungan memang penting, tetapi persoalan sampah tidak selesai hanya dengan memungut apa yang telah berserakan. Kita juga perlu melihat kebiasaan yang menghasilkan sampah dan bagaimana tanggung jawab terhadapnya dibentuk sejak dari rumah.

Kebersihan, Amanah, dan Larangan Merusak

Islam memberikan landasan yang kuat tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Allah Swt. berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rūm [30]: 41).

Ayat tersebut juga menjadi salah satu landasan Al-Qur’an yang digunakan dalam Modul GERAI PUI (Gerakan Nasional Peduli Sampah Klaster Pendidikan PUI), kerusakan lingkungan tidak selalu datang dari sesuatu yang jauh dari kehidupan keluarga. Ia dapat berawal dari kebiasaan sehari-hari: konsumsi berlebihan, penggunaan barang sekali pakai, membuang makanan, mencampur semua jenis sampah, hingga menganggap bahwa sampah tidak lagi menjadi urusan kita setelah keluar dari rumah.

Al-Qur’an juga mengingatkan, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik” (QS. Al-A‘rāf [7]: 56). Pesannya jelas: manusia boleh memanfaatkan bumi, tetapi tidak diberi kebebasan untuk merusaknya.

Rasulullah ﷺ bahkan menghubungkan tindakan sederhana menjaga ruang bersama dengan keimanan. Dalam hadis tentang cabang-cabang iman disebutkan bahwa tingkatan yang paling rendah adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan” (Muslim, n.d.). Artinya, kepedulian terhadap kebersihan ruang yang digunakan bersama bukan persoalan sepele.

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, menjaga lingkungan juga berkaitan dengan tujuan kemaslahatan manusia. Lingkungan yang sehat mendukung perlindungan jiwa (ḥifzun nafs), keberlangsungan generasi (ḥifẓun nasl), dan perlindungan harta serta sumber daya (ḥifẓul māl). Sampah yang tidak dikelola, air yang tercemar, dan lingkungan yang tidak sehat pada akhirnya dapat mengancam kehidupan manusia hari ini maupun generasi berikutnya.

Bukan “Membantu Ibu”

Keluarga perlu mengubah cara pandang. Ketika ayah atau anak menyapu, mencuci piring, membersihkan kamar, atau membuang sampah, kita sering mengatakan bahwa mereka sedang “membantu ibu”.

Sekilas kalimat itu terdengar baik. Namun, secara tidak sadar ia dapat menempatkan pekerjaan rumah sebagai tanggung jawab utama ibu, sementara anggota keluarga lainnya hanya membantu.

Padahal rumah adalah ruang hidup bersama. Karena itu, menjaga kebersihan dan merawatnya merupakan tanggung jawab bersama.

Pembagiannya tentu tidak harus sama. Usia, kemampuan, kesehatan, waktu, dan aktivitas setiap anggota keluarga berbeda. Anak kecil dapat merapikan mainan. Anak yang lebih besar dapat merapikan kamar, membawa sampah ke tempatnya, atau membantu memilah sampah. Ayah dan ibu dapat berbagi pekerjaan berdasarkan kondisi keluarga.

Yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa setiap anggota keluarga bertanggung jawab terhadap apa yang digunakannya dan sampah yang dihasilkannya.

Pendidikan kebersihan karena itu perlu bergerak dari sekadar “jangan buang sampah sembarangan” menuju “bertanggung jawablah terhadap sampah yang kita hasilkan.”

Anak yang setiap hari meninggalkan sampah dan selalu melihat orang lain membereskannya dapat belajar bahwa kebersihan merupakan urusan orang lain. Sebaliknya, anak yang dibiasakan merapikan barang, membersihkan sisa aktivitasnya, mengurangi sampah, dan ikut memilahnya sedang belajar kemandirian, disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.

Dari Rumah Menuju GERAI PUI

Prinsip tersebut menemukan bentuk konkretnya dalam GERAI PUI yang diterapkan pada lembaga pendidikan PUI.

Modul GERAI PUI menghubungkan persoalan sampah dengan salah satu program amaliah PUI dalam al-Ishlahuts Tsamaniyah, yaitu iṣlāḥul ‘ādah atau perbaikan kebiasaan. Modul menyatakan secara langsung, “Masalah sampah tidak lepas dari kebiasaan” (Pengurus Pusat Wanita Persatuan Ummat Islam, 2025, p. i).

Kalimat tersebut menyentuh akar persoalan. Sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan, tempat pembuangan akhir, atau pemerintah. Sampah berkaitan dengan kebiasaan manusia yang terus berulang.

Karena itu, modul menegaskan perlunya pembiasaan menjaga kebersihan baik di rumah maupun di lembaga pendidikan. Upayanya antara lain meminimalkan sampah dengan mengurangi penggunaan plastik, mengelola sampah organik menjadi kompos, serta mengolah sampah anorganik menjadi barang baru yang bermanfaat (Pengurus Pusat Wanita Persatuan Ummat Islam, 2025).

GERAI PUI sendiri diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Fokusnya mencakup pengurangan sampah plastik, penghijauan, konservasi air dan energi, serta penguatan edukasi lingkungan. Di lingkungan pendidikan PUI, gerakan ini diterapkan mulai PAUD/RA/TK, SD, SMP hingga SMA sederajat (Pengurus Pusat Wanita Persatuan Ummat Islam, 2025).

Di sinilah pendidikan keluarga dan pendidikan sekolah harus bertemu.

Jangan sampai anak belajar memilah sampah di sekolah, tetapi semua sampah kembali dicampurkan di rumah. Jangan sampai sekolah mengajarkan pengurangan plastik, sementara keluarga terbiasa menggunakan barang sekali pakai tanpa pertimbangan. Dan jangan sampai anak diajarkan bertanggung jawab terhadap lingkungan, tetapi setiap hari melihat seluruh urusan kebersihan dibebankan kepada ibu.

Rumah sebagai Sekolah Ekologi Pertama

Ketahanan keluarga bukan hanya kemampuan menghadapi persoalan ekonomi atau konflik. Ketahanan juga dibangun melalui kebiasaan hidup yang sehat, bertanggung jawab, saling bekerja sama, dan berkelanjutan.

Karena itu, rumah adalah sekolah ekologi pertama bagi anak.

Tidak harus dimulai dengan program besar. Mulailah dengan kesepakatan sederhana: setiap orang merapikan barang yang digunakannya, tidak meninggalkan sampah untuk dibereskan orang lain, mengurangi barang sekali pakai, memilah sampah sesuai kemampuan keluarga, menggunakan kembali barang yang masih bermanfaat, dan berbagi pekerjaan menjaga kebersihan.

World Cleanup Day akhirnya bukan hanya tentang satu hari ketika orang bersama-sama membersihkan lingkungan. Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah sampah selesai dikumpulkan: apakah kebiasaan kita ikut berubah?

Semangat iṣlāḥul ‘ādah dalam GERAI PUI mengingatkan bahwa perubahan lingkungan membutuhkan perubahan kebiasaan. Dan keluarga adalah tempat paling awal untuk memulainya.

Sebab rumah bersih bukanlah rumah yang selalu dibersihkan oleh ibu. Rumah bersih adalah rumah yang seluruh penghuninya belajar bertanggung jawab.

Dari kebiasaan kecil di dalam keluarga, kepedulian dapat bergerak menuju sekolah, masyarakat, dan lingkungan yang lebih luas. Menjaga bumi pada akhirnya bukan hanya kegiatan membersihkan sampah, melainkan amanah untuk memastikan bahwa cara kita hidup hari ini tidak mewariskan kerusakan kepada generasi setelah kita.

Related Articles

Back to top button