RUMAH YANG MAU MENDENGAR
Ketika Kesehatan Mental Keluarga Dimulai Bukan dari Nasihat, tetapi dari Kesediaan Mendengar

Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia, 10 Oktober 2026
Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita PUI
Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Pada 2026, WHO mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change”—pengalaman hidup didengar, suara nyata, perubahan nyata. Pesannya penting: orang yang mengalami persoalan kesehatan mental tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu didengar dan dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut kehidupannya.
Pesan itu layak dibawa pulang ke tempat paling dekat dengan manusia: keluarga.
Sebab persoalan kesehatan mental di rumah bukan selalu karena tidak ada yang berbicara. Kadang-kadang semua orang berbicara, tetapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Anak bercerita tentang tekanan sekolah, segera dijawab, “Kamu kurang bersyukur.” Ibu mengatakan dirinya lelah, dijawab, “Semua ibu juga begitu.” Ayah tertekan oleh pekerjaan, tetapi merasa harus selalu terlihat kuat. Remaja mengaku cemas, lalu dianggap terlalu banyak bermain gawai atau kurang beribadah.
Nasihat mungkin lahir dari niat baik. Namun seseorang yang sedang terluka terkadang membutuhkan telinga sebelum membutuhkan jawaban.
Ketika Luka Tidak Terlihat
WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan kehidupan, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada masyarakat. Kondisinya dipengaruhi faktor individual, keluarga, komunitas, dan struktural.
WHO melaporkan hampir satu dari tujuh penduduk dunia—sekitar 1,2 miliar orang pada 2023—hidup dengan gangguan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai gangguan yang paling umum. Pada kelompok usia 10–19 tahun, sekitar satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental. Lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas yang suportif menjadi penting bagi kesejahteraan mereka.
Indonesia pun menghadapi alarm. Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 menemukan indikasi persoalan kesehatan jiwa pada hampir 10 persen dari sekitar tujuh juta anak yang diskrining: sekitar 338 ribu menunjukkan gejala kecemasan dan 363 ribu menunjukkan gejala depresi. Kementerian Kesehatan juga menyebut data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan proporsi anak yang mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Di balik setiap angka itu ada seorang anak, orang tua, saudara, dan sebuah rumah.
Al-Qur’an Tidak Menyangkal Kesedihan
Ada kekeliruan yang terkadang muncul dalam memahami kesehatan mental secara religius: seakan-akan orang beriman tidak boleh bersedih.
Al-Qur’an justru merekam emosi manusia dengan sangat jujur. Ketika Nabi Ya‘qub a.s. kehilangan Yusuf, Allah berfirman:
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan amarahnya.”
(QS. Yūsuf [12]: 84)
Ya‘qub kemudian berkata:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yūsuf [12]: 86)
Rasulullah ﷺ pun menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Beliau menjelaskan bahwa mata meneteskan air mata dan hati bersedih, tetapi lisan tidak mengatakan kecuali yang diridhai Allah (HR. al-Bukhari).
Maka menangis bukan lawan dari iman. Kesedihan bukan otomatis tanda lemahnya tauhid. Persoalan kesehatan mental pun tidak selayaknya serta-merta disederhanakan menjadi “kurang iman”.
Iman Menguatkan, Bukan Membungkam
Dzikir, doa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan tawakal mempunyai tempat penting bagi seorang Muslim. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d [13]: 28)
Tinjauan sistematis terhadap penelitian mengenai membaca, mendengar, dan menghafal Al-Qur’an menemukan indikasi manfaat terhadap kecemasan, depresi, stres, kualitas tidur, dan kualitas hidup. Namun peneliti juga mencatat keterbatasan metodologis sehingga hasilnya perlu dibaca secara proporsional.
Karena itu pendekatan spiritual tidak perlu dipertentangkan dengan pertolongan profesional. Doa bukan pengganti diagnosis, sebagaimana psikolog atau psikiater bukan pengganti Allah. Keduanya berada pada ranah berbeda dan dapat berjalan bersama.
Keluarga Bukan Klinik
Orang tua tidak harus menjadi psikolog anaknya. Suami tidak harus menjadi terapis istrinya. Anak pun tidak bertanggung jawab menyembuhkan seluruh luka orang tuanya.
Tetapi keluarga dapat menjadi tempat pertama seseorang berani berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” tanpa takut ditertawakan, dibandingkan, dimarahi, atau dianggap kurang beriman.
Mendengarkan tidak berarti membenarkan semua perilaku. Mendengarkan berarti mengakui bahwa pengalaman orang lain nyata baginya.
Ketika persoalan menetap, mengganggu fungsi sehari-hari, atau muncul risiko menyakiti diri, keluarga perlu membantu mencari tenaga profesional. Kasih sayang tidak selalu berbentuk nasihat. Terkadang ia berbentuk keberanian berkata: “Kita cari bantuan bersama.”
Kesehatan Mental dalam Mīzān Ishlahuts Tsamaniyah
Perspektif PUI melalui Ishlahuts Tsamaniyah membuat kesehatan mental tidak berhenti sebagai persoalan individual.
- Iṣlāḥ al-‘Aqīdah membangun makna, harapan, dan hubungan dengan Allah.
- Iṣlāḥ al-‘Ibādah menghadirkan kekuatan melalui shalat, doa, dzikir, dan tawakal.
- Iṣlāḥ at-Tarbiyah membangun literasi emosi, kemampuan menghadapi tekanan, serta keberanian mencari pertolongan.
- Iṣlāḥ al-‘Āilah membangun keluarga yang aman secara emosional.
- Iṣlāḥ al-‘Ādah mengoreksi kebiasaan mengejek, membandingkan, mempermalukan, memberi label, dan mentabukan kesehatan mental.
- Iṣlāḥ al-Iqtiṣād mengingatkan bahwa tekanan ekonomi dan ketidakpastian penghidupan dapat memengaruhi kesejahteraan keluarga.
- Iṣlāḥ al-Mujtama‘ mendorong masyarakat menghapus stigma dan membangun jejaring dukungan.
- Iṣlāḥ al-Ummah mengarahkan terbentuknya sistem dan budaya yang menjaga martabat manusia.
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, kesehatan mental sangat berkaitan dengan ḥifẓ al-nafs, perlindungan kehidupan dan keselamatan manusia, serta ḥifẓ al-‘aql, pemeliharaan akal. Ia juga berhubungan dengan ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nasl, dan ḥifẓ al-māl, sebab kondisi mental dapat memengaruhi ibadah, relasi keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan keberlangsungan kehidupan.
Barangkali Rumah Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Nasihat
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 membawa pesan sederhana tetapi penting bagi keluarga: dengarkan pengalaman orang yang mengalaminya.
Kita membutuhkan ayah yang dapat mendengar tanpa segera menghakimi. Ibu yang boleh mengatakan dirinya lelah tanpa merasa gagal menjadi ibu. Anak yang dapat bercerita tanpa takut dibandingkan. Pasangan yang berani meminta pertolongan. Dan keluarga yang memahami bahwa mendatangi profesional kesehatan mental bukan kegagalan keluarga ataupun kegagalan iman.
Sebab rumah yang sehat bukan rumah yang penghuninya tidak pernah menangis, cemas, marah, atau terluka.
Rumah yang sehat adalah rumah tempat seseorang tidak harus menyembunyikan lukanya untuk tetap dicintai.
Mungkin dari sanalah perubahan dapat dimulai: bukan dari kemampuan menjawab seluruh persoalan orang yang kita cintai, tetapi dari kesediaan mengatakan,
“Ceritakan. Aku mendengarkan.”



