Ketika Lomba 17 Agustus Mengajarkan Lebih dari Sekedar Menang
Refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945

Rita Juniarty
Lembaga Ketahanan Keluarga DPP Wanita Persatuan Ummat Islam.
Setiap bulan Agustus, suasana kampung berubah menjadi lebih meriah. Jalan dihiasi merah putih. Anak-anak membawa bendera kecil. pengumuman-pengumuman terdengar dari pengeras suara. Di lapangan, warga berkumpul mengikuti berbagai perlombaan.
Ada lomba makan kerupuk, balap karung, memasukkan pensil ke botol, estafet, hingga berbagai permainan yang mengundang tawa. Anak-anak bersorak, orang tua tertawa, dan para peserta berusaha menjadi yang terbaik.
Begitulah wajah perayaan kemerdekaan yang selama ini kita kenal.
Merayakan kemerdekaan dengan kegembiraan, silaturahmi, gotong royong, dan kebersamaan tentu merupakan hal yang baik. Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain. Masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu dan mempererat hubungan.
Tetapi sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat Muslim, kita perlu bertanya lebih jauh:
Apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada anak-anak melalui setiap permainan itu?
Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang kita sampaikan. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat, apa yang ditertawakan orang dewasa, apa yang dianggap biasa, dan apa yang berulang kali ditampilkan di hadapan mereka.
Karena itu, perayaan 17 Agustus seharusnya tidak hanya dipikirkan dari sisi meriah atau tidak meriah. Kita juga perlu memikirkan nilai apa yang sedang ditanamkan.
Lomba makan kerupuk, misalnya, terlihat sederhana. Tetapi di dalamnya ada banyak pelajaran. Anak belajar berusaha, bersabar, mengendalikan diri, menerima kemenangan dan kekalahan. Ia belajar bahwa tidak semua perjuangan menghasilkan kemenangan, tetapi setiap usaha tetap layak dihargai.
Begitu pula lomba anak menyuapi orang tua dengan mata orang tua ditutup. Jika dirancang dengan baik, permainan ini justru dapat menjadi pengalaman yang mempererat hubungan anak dan orang tua.
Anak harus berhati-hati agar makanan sampai ke mulut orang tuanya. Orang tua harus percaya kepada anak. Keduanya harus berkomunikasi dan bekerja sama.
Ada tawa, tetapi ada pula pendidikan.
Ada permainan, tetapi ada pula kedekatan.
Inilah yang seharusnya kita cari dari sebuah perlombaan.
Namun, ada pula jenis perlombaan yang perlu kita renungkan lebih serius. Misalnya, laki-laki mengenakan pakaian perempuan untuk mengundang tawa.
Bagi sebagian orang, mungkin itu dianggap hanya permainan. “Kan cuma lomba.” “Kan cuma lucu-lucuan.” “Tidak sungguh-sungguh menjadi perempuan.”
Tetapi dalam pendidikan anak, persoalannya bukan hanya apakah peserta benar-benar berubah menjadi perempuan atau tidak.
Pertanyaannya adalah:
Apa yang sedang kita biasakan untuk mereka lihat?
Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki fitrah, identitas, kehormatan, dan batas-batas yang harus dijaga. Islam tidak mengajarkan kita menjadikan penyamaran identitas laki-laki dan perempuan sebagai bahan hiburan.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan terhadap laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Karena itu, sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan tersebut sebaiknya tidak dinormalisasi hanya karena dibungkus dalam bentuk perlombaan.
Ini bukan semata-mata persoalan boleh tertawa atau tidak.
Ini persoalan adab dan pendidikan.
Anak-anak sedang belajar tentang siapa dirinya. Anak laki-laki perlu tumbuh dengan kesadaran bahwa ia laki-laki. Anak perempuan perlu tumbuh dengan kesadaran bahwa ia perempuan.
Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling merendahkan. Justru perbedaan itu harus dihormati sebagai bagian dari fitrah yang Allah tetapkan.
Kita perlu mengajarkan kepada anak bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kehormatan, tetapi memiliki karakteristik dan tanggung jawab yang tidak harus disamakan.
Karena itu, jangan sampai sesuatu yang seharusnya kita jelaskan sebagai bagian dari adab dan fitrah justru kita jadikan bahan lelucon di hadapan anak-anak.
Pendidikan tentang fitrah tidak cukup dilakukan melalui nasihat. Ia juga dibangun melalui lingkungan dan keteladanan.
Anak laki-laki diajarkan menghormati perempuan. Anak perempuan diajarkan menghormati laki-laki. Keduanya diajarkan menjaga tubuh, pakaian, kehormatan, dan batas pergaulan.
Di sinilah ketahanan keluarga memiliki peran penting.
Ketahanan keluarga bukan hanya kemampuan menghadapi persoalan ekonomi, konflik rumah tangga, atau masalah sosial. Ketahanan keluarga juga berarti kemampuan keluarga menjadi benteng nilai bagi anak-anaknya.
Ketika lingkungan berubah, keluarga memberikan arah.
Ketika media sosial menawarkan berbagai nilai, keluarga memberikan filter.
Ketika budaya populer menghadirkan berbagai perilaku, keluarga mengajarkan anak untuk membedakan mana yang sesuai dengan nilai agama dan mana yang tidak.
Karena itu, perayaan 17 Agustus sebenarnya dapat menjadi ruang pendidikan keluarga.
Kita tidak perlu menghilangkan kegembiraan. Kita tidak perlu membuat anak-anak kehilangan kesempatan bermain. Kita hanya perlu memilih permainan yang sekaligus mendidik.
Lomba makan kerupuk boleh.
Balap karung boleh.
Estafet keluarga boleh.
Lomba menyuapi ayah atau ibu boleh.
Lomba kerja sama anak dan orang tua boleh.
Lomba permainan tradisional antarkeluarga juga sangat baik.
Bahkan kita dapat membuat lomba yang mempertemukan ayah dan anak, ibu dan anak, atau kakek dan cucu.
Dengan begitu, lapangan 17 Agustus bukan hanya menjadi tempat anak memperoleh hadiah. Lapangan itu menjadi tempat anak memperoleh pengalaman hidup.
Ia belajar bekerja sama.
Ia belajar menghormati.
Ia belajar sportif.
Ia belajar menerima kekalahan.
Ia belajar bersyukur ketika menang.
Dan yang tidak kalah penting, ia melihat bahwa keluarganya hadir untuk mendukungnya.
Mungkin dua puluh tahun kemudian, seorang anak tidak lagi mengingat siapa yang menjadi juara lomba makan kerupuk. Tetapi ia mungkin masih mengingat ayah yang berteriak menyemangatinya, ibu yang tertawa ketika ia gagal, atau tangan orang tuanya yang menggandengnya menuju lapangan.
Kenangan semacam itulah yang memperkuat ikatan keluarga.
Maka, mari kita rayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan, tetapi jangan kehilangan arah pendidikan.
Kita boleh membuat masyarakat tertawa, tetapi jangan menjadikan pelanggaran adab sebagai bahan hiburan.
Kita boleh membuat perlombaan menarik, tetapi jangan mengorbankan nilai yang sedang kita tanamkan kepada anak.
Kita boleh mengikuti tradisi, tetapi tradisi tetap perlu ditimbang dengan nilai agama.
Sebab sebagai keluarga Muslim, ukuran kita bukan sekadar:
“Apakah ini seru?”
Tetapi juga:
“Apakah ini baik dan sesuai dengan tuntunan Allah?”
Bukan hanya:
“Apakah semua orang tertawa?”
Tetapi:
“Apakah anak-anak mendapatkan teladan yang benar?”
Dan bukan hanya:
“Siapa yang menjadi juara?”
Tetapi:
“Karakter apa yang tumbuh setelah perlombaan selesai?”
Kemerdekaan semestinya menjadi momentum untuk membangun manusia Indonesia yang kuat. Bukan hanya kuat secara fisik dan ekonomi, tetapi juga kuat iman, karakter, identitas, tanggung jawab, dan akhlaknya.
Keluarga adalah tempat pertama semua itu dibangun.
Maka, mari menjadikan perayaan 17 Agustus bukan sekadar agenda tahunan untuk bersenang-senang. Jadikan ia sebagai ruang pendidikan keluarga, ruang memperkuat silaturahmi, ruang menanamkan nilai Islam, dan ruang membangun ketahanan keluarga.
Karena anak-anak kita bukan hanya membutuhkan kenangan tentang kemerdekaan.
Mereka membutuhkan bekal untuk mempertahankan kemerdekaan itu dengan akhlak dan iman.
Jangan hanya mencetak pemenang lomba.
Mari kita cetak generasi yang tahu siapa dirinya, mengenal Tuhannya, menghormati sesamanya, mencintai keluarganya, menjaga fitrahnya, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah ketika generasi kita mampu hidup bebas tanpa kehilangan iman, identitas, akhlak, dan martabat.


