Kabar Nasional

Ketua Panitia: Milad ke-108 PUI Jadi Momentum Refleksi dan Konsolidasi Gerakan Islah

Majalengka – Ketua Panitia Puncak Milad ke-108 Persatuan Ummat Islam (PUI), Irfan Ahmad Fauzi, M.Hum., yang juga Wakil Ketua Umum DPP PUI, menyampaikan bahwa peringatan Milad tahun ini menjadi momentum refleksi sejarah, konsolidasi organisasi, dan penguatan Gerakan Islah menuju Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikannya dalam Puncak Milad ke-108 PUI yang digelar di Pesantren Pondok Mufidah Santi Asromo, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (23/2/2026).

Dalam laporannya, Irfan menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri sekitar 4.800 peserta, terdiri dari kurang lebih 1.800 siswa Santi Asromo, serta para siswa, guru, pengurus, tokoh, dan kiai PUI dari berbagai daerah, di antaranya Majalengka, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Subang, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, hingga Jakarta.

“Alhamdulillah, kehadiran ribuan peserta ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kekuatan jama’ah PUI dalam menjaga kesinambungan perjuangan,” ujarnya.

Ia juga melaporkan bahwa khusus di Kabupaten Majalengka terdapat 216 lembaga pendidikan PUI, yang terdiri dari TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta satu perguruan tinggi. Menurutnya, data tersebut menunjukkan kontribusi nyata PUI dalam bidang pendidikan sebagai pilar utama Gerakan Islah.

Irfan menjelaskan bahwa pemilihan Santi Asromo sebagai lokasi Puncak Milad bukan tanpa alasan. Tempat ini memiliki nilai historis, spiritual, dan ideologis yang sangat kuat bagi PUI.

“Santi Asromo adalah simbol napak tilas sejarah dan penguatan spiritual. Lembaga ini didirikan pada tahun 1932 oleh Abdul Halim, salah satu pendiri PUI sekaligus Pahlawan Nasional,” jelasnya.

Menurutnya, penyelenggaraan Milad di lokasi tersebut merupakan refleksi akar organisasi—kembali ke tempat di mana gagasan kemandirian ekonomi dan pendidikan Islam modern ala PUI pertama kali diterapkan.

Ia juga menyinggung makna filosofis nama “Santi Asromo”. “Santi berarti damai, dan Asromo berarti tempat. Ini adalah tempat menempa jiwa yang damai. Tempat membangun karakter, spiritualitas, dan kemandirian.”

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Santi Asromo merupakan representasi konkret dari kurikulum Islah yang diusung PUI, yakni Ishlahut Tarbiyah (perbaikan pendidikan) dan Ishlahul Iqtishodiyah (perbaikan ekonomi). Konsep tersebut, menurutnya, tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman hingga hari ini.

Irfan menekankan bahwa Milad ke-108 ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjalanan panjang organisasi, sekaligus penguatan konsolidasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Milad ini adalah ruang muhasabah. Kita mengingat sejarah, memperkuat barisan, dan meneguhkan kembali komitmen Gerakan Islah agar PUI semakin berkontribusi bagi umat dan bangsa,” ungkapnya.

Di akhir laporannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, baik panitia pusat, panitia lokal, maupun jajaran Kepolisian Resor Majalengka yang turut mendukung kelancaran acara.

“Atas nama panitia, kami menyampaikan terima kasih atas kerja keras semua pihak. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyelenggaraan Milad ini masih terdapat kekurangan,” tutupnya.

Dengan semangat kebersamaan ribuan peserta yang hadir, Puncak Milad ke-108 PUI di Santi Asromo menjadi peneguhan komitmen kolektif untuk terus menghidupkan Gerakan Islah dalam pendidikan, ekonomi, dan kehidupan kebangsaan.

Related Articles

Back to top button