MUHARRAM 1448 H: Hijrah Itu Bukan Nostalgia, Ini Tantangan untuk Kita Hari Ini

Ditulis oleh

di

,

Oleh: H. Raizal Arifin, S.Sos., M.Sos.

Ketua Umum DPP Persatuan Ummat Islam (PUI)

Tahun berganti, kalender berubah. Tapi apakah kita ikut berubah?

Muharram bukan sekadar soal angka baru di penunjuk waktu. Ia adalah pengingat tentang sebuah peristiwa yang pernah mengguncang sejarah — hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Bukan sekadar pindah kota, tapi sebuah lompatan besar: dari lemah menjadi kuat, dari terbelakang menjadi maju, dari tercerai-berai menjadi bersatu.

Pertanyaannya: setelah sekian tahun kita memperingati Tahun Baru Hijriah, sudahkah kita benar-benar berhijrah?

Banyak Informasi, Tapi Miskin Kebijaksanaan

Kita hidup di zaman yang luar biasa. Informasi ada di mana-mana — di genggaman tangan, di layar kecil yang kita tatap berjam-jam setiap hari. Tapi ironisnya, semakin banjir informasi, semakin banyak pula kebingungan.

Hoaks merajalela. Ujaran kebencian jadi tontonan harian. Judi online menyeret jutaan orang ke jurang kehancuran. Narkoba merusak generasi. Korupsi terus berulang seolah tak pernah belajar dari sejarah.

Kita mencetak banyak orang yang cerdas secara teknis, tapi rapuh dalam karakter. Produktif di tempat kerja, tapi kehilangan makna hidup. Punya ribuan teman di media sosial, tapi merasa sunyi di dalam rumah sendiri.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Kuat di sini bukan soal otot. Tapi soal ilmu yang tajam, akhlak yang teguh, mental yang tangguh, dan jiwa kepemimpinan yang matang.

Maka hijrah pertama yang paling mendesak adalah hijrah dari dalam diri — dari malas jadi produktif, dari pesimis jadi optimis, dari tukang kritik jadi pemberi solusi.

Rumah Kita Sedang Goyah, Kalau individu adalah bata, maka keluarga adalah dindingnya. Dan dinding itu sedang retak.

Data BPS mencatat hampir 400 ribu kasus perceraian sepanjang tahun 2024. Yang lebih mengejutkan: lebih dari 60 persen bukan karena kemiskinan, tapi karena perselisihan yang tak kunjung reda. Artinya, masalahnya bukan di dompet — tapi di komunikasi, keteladanan, dan ketahanan moral.

Di banyak rumah, semua anggota keluarga ada secara fisik, tapi hadir di dunia yang berbeda-beda. Ayah dengan laptopnya, ibu dengan ponselnya, anak dengan gamenya. Satu atap, tapi masing-masing hidup di dimensinya sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan, keluarga yang dulu jadi sekolah pertama pembentukan karakter, kini kalah pengaruh dibanding algoritma media sosial.

Allah SWT mengingatkan kita dengan tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Membangun keluarga bukan urusan privat semata. Itu adalah tanggung jawab keagamaan sekaligus kebangsaan.

Indonesia yang kuat tidak lahir dari gedung-gedung megah. Ia lahir dari rumah-rumah yang kuat.

Potensi Besar yang Belum Terbangun

Indonesia adalah rumah bagi Muslim terbesar di dunia. Masjid ada di mana-mana. Pesantren terus tumbuh. Organisasi Islam hadir di berbagai penjuru kehidupan.

Tapi jujur — potensi besar ini belum benar-benar menjadi kekuatan yang terorganisasi.

Kita masih berkutat dengan ketimpangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan —yang paling menyedihkan— lebih suka berdebat daripada berkolaborasi.

Padahal Allah SWT sudah memberi arahan yang jelas:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Umat Islam butuh lebih banyak kerja sama, bukan pertengkaran. Lebih banyak karya nyata, bukan retorika kosong. Lebih banyak solusi, bukan saling tuding.

Tiga Langkah Nyata PUI di Muharram Ini

Sejak awal berdirinya, PUI dibangun oleh para ulama visioner seperti K.H. Abdul Halim dan K.H. Ahmad Sanusi di atas satu semangat: islah — perbaikan yang terus-menerus, bukan yang musiman.

Memasuki Muharram 1448 H, PUI mengajak seluruh umat untuk bergerak dalam tiga arah:

Pertama — Perbaiki Diri.

Bangsa ini butuh lebih banyak guru yang menginspirasi, pemuda yang berprestasi, profesional yang amanah, pengusaha yang jujur, dan pemimpin yang benar-benar melayani.

Kedua — Perkuat Keluarga.

Jadikan rumah sebagai madrasah pertama. Orang tua bukan sekadar pencari nafkah — mereka adalah pendidik utama. Dari sinilah iman, akhlak, tanggung jawab, dan cinta tanah air pertama kali ditanamkan.

Ketiga — Bangun Umat.

Umat Islam harus hadir sebagai solusi, bukan beban. Melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan sosial — jadikan kehadiran umat Islam sebagai rahmat yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Muharram Adalah Panggilan

Allah SWT sudah menegaskan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Jika jutaan Muslim di negeri ini memperbaiki dirinya, menguatkan keluarganya, dan memberdayakan lingkungannya — maka kita sedang membangun Indonesia dari akarnya.

Muharram bukan sekadar pergantian tahun.

Muharram adalah panggilan untuk berubah.

Dari diri yang lemah menjadi kuat. Dari keluarga yang rapuh menjadi kokoh. Dari umat yang terpecah menjadi kekuatan yang menghadirkan solusi.

Mari jadikan 1448 H sebagai tahun di mana kita benar-benar bergerak.

Karena Indonesia yang maju, berkeadilan, dan berakhlak — dibangun oleh umat yang mau berbenah, mulai dari diri sendiri.