Kabar Nasional

Puncak Milad 108 Tahun, Ketum DPP PUI Tegaskan Islah sebagai Ruh Perjuangan Menuju Indonesia Emas 2045

Majalengka – Ketua Umum DPP Persatuan Ummat Islam (PUI), H. Raizal Arifin, M.Sos, menegaskan bahwa Gerakan Islah merupakan ruh perjuangan PUI dalam Puncak Milad ke-108 yang digelar di Pesantren Pondok Mufidah Santi Asromo, Majalengka, Jawa Barat, Senin (23/2/2026) dan dihadiri lebih dari 4.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan tersebut diikuti oleh unsur Majelis Syura, Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah dan para pimpinan lembaga pendidikan PUI, tokoh ulama, kader, santri, serta jama’ah dari berbagai wilayah, khususnya Jawa Barat dan Jakarta. Momentum Milad ini menjadi ajang silaturahmi nasional sekaligus konsolidasi gerakan menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Ketua Umum menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 108 tahun PUI yang tetap istiqamah dalam dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat.

“Alhamdulillah, sebagai sebuah jama’ah kita mampu merawat PUI lebih dari seabad. Dengan segala dinamika yang ada, PUI hari ini tetap memiliki ribuan lembaga pendidikan dan jutaan jama’ah di Jawa Barat dan seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keberlangsungan organisasi yang didirikan para ulama tersebut bukanlah sesuatu yang instan, melainkan tumbuh dari fondasi spiritual, keikhlasan, dan visi besar perjuangan. Amal perjuangan itu, menurutnya, merupakan amal jariyah kolektif yang terus mengalir manfaatnya bagi umat dan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan bahwa Gerakan Islah (perbaikan) adalah pedoman utama perjuangan PUI. Mengutip bait ke-3 Intisab, Al-Islahu Sabiluna, ia menjelaskan bahwa Islah bukan sekadar slogan, melainkan arah gerak organisasi.

“Kalau disepadankan, Islah itu bukan hanya doing good, tapi impactful. Bukan hanya beramal baik, tetapi memastikan ada perbaikan dan perubahan yang nyata di masyarakat.”

Ia menjelaskan bahwa secara organisatoris, Islah harus diwujudkan dalam penguatan tata kelola kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta kontribusi nyata dalam menjaga keutuhan bangsa. Secara kultural, Islah berarti membangun karakter jama’ah yang berakhlak, disiplin, dan berorientasi solusi.

Ketua Umum juga mencontohkan keteladanan KH. Abdul Halim (Mbah Halim), pendiri PUI yang mendirikan pesantren Santi Asromo pada 1932 dengan kurikulum vokasi—langkah visioner di masanya ketika banyak pesantren masih fokus pada pengkajian kitab klasik. Spirit inovatif dan keberanian membaca kebutuhan zaman itulah yang, menurutnya, harus terus dihidupkan oleh generasi PUI hari ini.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa visi Indonesia Emas 2045 tinggal 19 tahun lagi. Oleh karena itu, PUI sebagai bagian dari elemen bangsa dan pewaris perjuangan para ulama dan pahlawan nasional memiliki tanggung jawab historis untuk menyiapkan generasi unggul.

“Perbaikan membutuhkan kolaborasi. Islah tidak bisa dikerjakan sendiri. Kita harus bersinergi dengan semua pihak untuk melahirkan generasi yang kuat iman, akhlak, dan kompetensinya.”

Ia menegaskan bahwa Milad ke-108 ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi jama’ah, menyatukan visi, serta mempertegas arah perjuangan PUI agar tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Dengan dihadiri ribuan peserta dan semangat kebersamaan yang kuat, Puncak Milad ke-108 PUI di Majalengka menjadi peneguhan komitmen bersama bahwa Islah akan terus menjadi jalan perjuangan menuju kemajuan umat dan terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Related Articles

Back to top button