Ketua Majelis Syura di Milad 108 PUI: Kita Adalah Mujaddid Kolektif yang Menghidupkan Ruh Perjuangan

Majalengka – Ketua Majelis Syura Persatuan Ummat Islam (PUI), KH Nurhasan Zaidi, mengajak seluruh keluarga besar PUI untuk memaknai Milad ke-108 sebagai momentum tajdid (pembaruan) ruh perjuangan dan penguatan spiritualitas jama’ah.
Hal tersebut disampaikannya dalam Puncak Milad ke-108 PUI yang digelar di Pesantren Pondok Mufidah Santi Asromo, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (23/2/2026), yang dihadiri lebih dari 4.000 peserta dari unsur pimpinan dan keluarga besar PUI se-Indonesia.
Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa PUI berdiri di atas fondasi keikhlasan dan perjuangan ulama yang bukan hanya alim dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam komitmen kebangsaan. Ia menyebut KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi – keduanya adalah Pahlawan Nasional – dan juga Mr Samsudin, sebagai ulama pejuang dan aktivis yang memiliki hubungan erat dengan para pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, dan HOS Tjokroaminoto.
“Mereka adalah ulama yang menyatukan ilmu, iman, dan perjuangan. Mereka membangun umat sekaligus membangun bangsa. Itu warisan ruh yang harus kita syukuri dan kita jaga,” ujarnya.
Beliau menegaskan bahwa perjuangan tidak pernah lepas dari dinamika. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(QS. Ali Imran: 140)

Menurutnya, naik-turun dalam perjalanan organisasi adalah sunnatullah. Yang terpenting bukan pada naik atau turunnya, tetapi pada istiqamah menjaga iman, persatuan, dan komitmen perbaikan.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap awal seratus tahun seorang yang memperbarui (agama) mereka.”
(HR. Abu Dawud)
KH Nurhasan Zaidi menjelaskan bahwa tajdid bukan berarti mengganti ajaran agama, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah ketika mulai melemah dalam praktik umat.
“Dalam konteks kita hari ini, mujaddid tidak selalu satu orang. Kita semua adalah mujaddid kolektif. Kita memperbarui semangat, memperbaiki kelemahan, menguatkan ukhuwah, dan menghidupkan kembali ruh Islah dalam tubuh jama’ah.”
Beliau juga mengingatkan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Menurutnya, perubahan besar bangsa selalu dimulai dari perubahan diri, keluarga, lembaga pendidikan, dan jama’ah. Karena itu, pesantren seperti Pesantren Pondok Mufidah Santi Asromo yang didirikan oleh KH Abdul Halim dan juga pesantren serta madrasah/ sekolah/kampus PUI lainnya harus terus menjadi pusat pencerdasan umat dan pembentukan karakter santri yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa pejuang.
Beliau menutup dengan refleksi bahwa Milad bukan sekadar peringatan usia, melainkan momentum muhasabah dan pembaruan niat.
“Jika para pendiri telah mewariskan iman dan perjuangan, maka tugas kita adalah menjaga amanah itu. Kita perkuat ukhuwah, kita hidupkan dakwah, kita teguhkan persatuan. Dengan ruh Islah dan tajdid, insyaAllah PUI akan terus menjadi cahaya bagi umat dan bangsa.”
Momentum Milad ke-108 ini pun menjadi pengingat bahwa perjuangan adalah estafet ruhani—dari ulama pendiri kepada generasi hari ini—untuk terus menghadirkan kebaikan, perbaikan, dan kemaslahatan menuju Indonesia Emas 2045.



