Dakwah

Marhaban ya Ramadan: Saatnya Reset Hati yang Lelah

Oleh: Ahmad Gabriel

Waketum PP Pemuda PUI

Bayangkan jika Nabi Muhammad Saw hidup di zaman ini.

Zaman ketika orang bangun tidur bukan lagi mencari air wudhu, tetapi mencari ponsel. Jari lebih dulu mengusap layar daripada mengusap wajah. Notifikasi lebih cepat dibuka daripada mushaf Al-Qur’an. Timeline media sosial lebih sering dibaca daripada ayat-ayat Tuhan.

Apa yang akan Nabi katakan saat tahu kita melakukan semua itu?

Bayangkan pula jika Abu Bakar Ash-Shiddiq hidup hari ini. Di saat orang mengukur keberhasilan dari jumlah aset, portofolio investasi, atau luas properti, beliau mungkin tetap orang paling tenang. Hartanya tetap ringan dilepas. Tidak disimpan untuk keamanan masa depan, tetapi untuk keselamatan orang lain.

Dan jika Umar bin Khattab hidup di masa algoritma dan kecerdasan buatan, mungkin keberaniannya muncul dalam bentuk lain: keberanian melawan manipulasi informasi, keberanian menegakkan keadilan di tengah dunia yang makin pintar memoles kebohongan.

Tetapi kenyataannya, kita hidup di zaman ini. Kita bukan Nabi. Kita bukan sahabat. Kita manusia biasa—yang hatinya mudah kotor, mudah gelisah, mudah lelah.

Karena itulah Ramadan selalu datang kembali. Seperti Tuhan memberi kesempatan ulang. Seperti tombol reset bagi hati yang terlalu lama bekerja tanpa istirahat. Tapi ia hanya singgah setahun sekali, setelah hari ke-30, ia akan pergi lagi.

Dunia bergerak cepat, tetapi hati kita sering tertinggal.

Hari ini hidup begitu cepat. Belanja tidak perlu ke pasar. Cukup sentuh layar. Makanan datang sendiri. Investasi bisa dilakukan sambil rebahan. Bisnis berjalan tanpa pernah bertemu pelanggan. Marketing diatur algoritma. Orang bisa kaya tanpa pernah bertatap muka dengan pembelinya.

Namun anehnya, semakin modern kehidupan, semakin banyak orang merasa kosong.

Seorang pengusaha muda pernah bercerita. Usianya belum 35 tahun, tetapi sudah memiliki beberapa properti, bisnis online sukses, dan investasi kripto yang nilainya fantastis. Namun suatu malam ia berkata, “Saya takut sendirian. Rasanya hidup ini kosong. Saya tidak tahu sebenarnya saya mengejar apa.”

Di media sosial ia terlihat sukses. Tetapi di kamar tidurnya ia sering menangis tanpa sebab.

Masalahnya bukan pada uang. Bukan pada teknologi. Masalahnya adalah hati yang tidak pernah di-reset.

Hati kita seperti ponsel yang terus dipakai tanpa dimatikan. File sampah menumpuk. Aplikasi berjalan di latar belakang. Baterai cepat habis. Sistem menjadi lambat.

Ramadan datang seperti tombol restart.

Allah Swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185).

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan menahan diri dari segala hal yang merusak hati.

Jika kita mampu menahan diri dari makan dan minum yang halal, seharusnya lebih mampu menahan diri dari kebohongan, keserakahan, kebencian, dan kezaliman.

Namun puasa tidak akan mengubah apa-apa jika hati tetap dibiarkan kotor. Karena itulah Ramadan sejatinya adalah bulan reset hati.

Ketika hati menjadi rusak, ibadah sering kali hanya tinggal rutinitas.

Ada seorang pegawai yang rajin salat, rajin puasa, bahkan rutin ikut pengajian. Tetapi di kantornya ia dikenal licik dan mudah menjatuhkan rekan kerja demi jabatan. Ibadahnya rajin, tetapi hatinya penuh iri.

Inilah yang sering terjadi: ibadah berjalan, tetapi hati tidak berubah.

Padahal Rasulullah Saw telah mengingatkan:

أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik (pula) seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”. Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun Alaih)

Padahal dalam ajaran Islam, hati adalah pusat segalanya. Jika hati baik, seluruh perilaku akan baik. Jika hati rusak, seluruh amal menjadi rusak.

Ramadan datang untuk memperbaiki pusat itu. Ada delapan langkah untuk mereset hati di bulan Ramadan:

1. Taubat: Membersihkan Luka Lama

Setiap dosa meninggalkan bekas. Sedikit demi sedikit, hati menghitam.

Hari ini dosa tidak hanya terjadi di dunia nyata. Dosa hadir lewat layar: mata melihat yang tak pantas, jari menulis komentar menyakitkan, hati menikmati kejatuhan orang lain.

Taubat adalah keberanian mengakui kelemahan diri. Mengatakan, “Ya Allah, aku salah. Aku ingin berubah.”

Dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulainya.

2. Zikir di Tengah Kebisingan Dunia

Kita hidup di zaman paling bising sepanjang sejarah. Informasi datang tanpa henti. Pikiran jarang benar-benar diam.

Zikir menjadi ruang sunyi di tengah keramaian. Menyebut nama Allah membuat hati stabil kembali.

Orang yang banyak mengingat Tuhan biasanya tidak mudah panik. Ia tahu hidup bukan hanya soal usaha, tetapi juga pertolongan Ilahi.

3. Kembali kepada Al-Qur’an

Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Tetapi banyak orang hanya membacanya tanpa memahami makna.

Padahal di dalamnya terdapat jawaban bagi kegelisahan manusia modern: tentang tujuan hidup, kesabaran, keadilan, dan harapan.

Di saat dunia menawarkan motivasi instan, Al-Qur’an menawarkan ketenangan jangka panjang.

4. Shalat Khusyuk dan Qiyamul Lail

Di malam Ramadan, masjid penuh. Namun inti shalat bukan hanya berdiri bersama, melainkan menghadirkan hati.

Tahajud, khususnya, menjadi saat paling intim antara hamba dan Tuhannya. Ketika dunia tertidur, seorang hamba bangun, menangis, dan mengadu.

Di sanalah hati benar-benar dibersihkan.

5. Puasa Melatih Kendali Diri

Masalah terbesar manusia bukan kurangnya peluang, tetapi kurangnya kendali diri. Banyak orang gagal bukan karena tidak pintar, tetapi karena tidak mampu menahan nafsu. Puasa mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Di dunia marketing, kita didorong untuk terus membeli. Di dunia investasi, kita terdorong mengejar keuntungan cepat. Puasa mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari memiliki lebih banyak.

6. Muhasabah: Mengoreksi Diri Sendiri

Media sosial membuat semua orang mudah mengkritik orang lain. Muhasabah mengajak kita bertanya: “Apa yang salah dalam diriku?”

Orang yang sibuk memperbaiki diri biasanya tidak punya waktu mencela orang lain.

7. Sedekah dan Silaturahmi

Sedekah membersihkan hati dari cinta berlebihan pada harta.

Ada kisah seorang pedagang kecil yang tetap menyisihkan uangnya untuk berbagi meski penghasilannya pas-pasan. Anehnya, hidupnya selalu terasa cukup.

Sementara banyak orang kaya justru hidup dalam ketakutan kehilangan hartanya.

Silaturahmi pun menghapus kebencian yang lama dipelihara. Ramadan mengajak kita berdamai.

8. Lingkungan yang Baik

Lingkungan menentukan kualitas hati.

Berteman dengan orang yang gemar mengeluh membuat kita ikut mengeluh. Berteman dengan orang yang optimis membuat kita ikut kuat.

Ramadan adalah kesempatan mencari lingkungan yang menghidupkan iman.

Mengapa reset hati semakin mendesak? Karena dunia berubah cepat sementara hati manusia tetap sama. Ia tetap membutuhkan ketenangan, makna, dan hubungan dengan Tuhan.

Banyak orang kaya menguasai teknologi, tetapi kalah oleh kesepian. Hartanya melimpah, tetapi hatinya gelisah. Namun penderitaan batin tidak hanya dialami orang kaya. Banyak pula orang miskin hidup dalam tekanan ekonomi, merasa rendah diri, mudah marah di rumah, bahkan kehilangan harapan karena merasa hidupnya tidak pernah berubah. Kaya atau miskin, keduanya bisa sama-sama kehilangan ketenangan jika hati tidak ditata.

Ramadan mengingatkan bahwa kekayaan sejati adalah hati yang damai.

Ramadan menjadi stasiun pengisian energi iman. Seperti ponsel perlu diisi ulang, iman juga perlu direcharge. Tanpa pengisian ulang, perangkat secanggih apa pun akan mati, begitu pula manusia.

Setiap Ramadan datang, pertanyaannya bukan sekadar menu buka puasa, tetapi: apa yang berubah dalam hatiku?

Jika setelah Ramadan kita tetap mudah marah, tetap curang dalam bisnis, tetap kasar kepada keluarga, maka mungkin puasa kita hanya sebatas lapar. Tetapi jika hati lebih lembut, lebih sabar, lebih peduli, itulah tanda Ramadan berhasil.

Bayangkan jika ini Ramadan terakhir kita. Apakah kita siap, atau masih sibuk mengejar dunia tanpa sempat memperbaiki hati?

Ramadan datang membawa kesempatan memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan menata ulang arah hidup.

Dunia boleh semakin canggih. Teknologi boleh semakin maju. Investasi boleh semakin kompleks. Namun pada akhirnya manusia tetap mencari ketenangan hati.

Dan ketenangan itu tidak dijual di pasar, tidak ditambang di blockchain, tidak pula dibangun dari beton dan properti. Ia tumbuh dari hati yang bersih.

Karena pada akhirnya, saat manusia pulang, yang dibawa bukan saldo rekening, bukan jabatan, bukan popularitas. Yang ikut masuk ke liang kubur hanyalah amal… dan hati.

Maka sebelum Ramadan pergi, mari kita reset hati. Menghapus dendam. Mengurangi keserakahan. Memperbanyak syukur. Memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan manusia.

Sebab yang Allah nilai bukan seberapa kaya hidup kita, tetapi seberapa bersih hati kita saat kembali kepada-Nya.

Related Articles

Back to top button