Memahat Mata Rantai Kejayaan PUI (Bagian Pertama)

MEMAHAT MATA RANTAI KEJAYAAN PUI
(Bagian Pertama)
Oleh: Kana Kurniawan*
Dalam tiap perjumpaan dengan para kader struktural dan kultural PUI, tidak jarang muncul pertanyaan-pertanyaan kritis, “Bagaimana masa depan PUI di abad kedua?”. Pertanyaan tersebut bisa memiliki perspektif bermacam-macam, tergantung konteksnya. Dan bahkan ada harapan besar saat penulis bertemu salahsatu tokoh PUI Kabupaten Kuningan, Drs. H. Makmur, yang pernah memimpin DPD PUI Kuningan. “Kapan tokoh PUI muncul di media?,”, “Kapan pimpinan PUI bisa berdiri setara dengan para pimpinan ormas-ormas Islam?.”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bagi penulis adalah mewakili harapan besar banyak anggota PUI termasuk pimpinan DPP PUI. PUI dalam peran kancah nasional —- untuk tidak menyebutnya, masih minim gagasan yang tersampaikan ke publik. PUI masih tergolong “historisis romantik” terutama di masa-masa KH. Ahmad Sanusi dan KH. Abdul Halim memimpin. Sebuah kondisi ormas yang berdiri sejak 1917 itu sebagai lawan tanding pemerintah Orde Lama dan Orde Baru hingga kemudian dipinggirkan.
Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan, tetapi mengajak anggota PUI merancang ulang masa depan PUI di jaman serba canggih, situasi global dalam ancaman perang dunia ketiga dan paradoknya post-truth. Maka, daya yang dibutuhkan tidak sekedar penguasaan literasi digital, berpikir kritis (critical thinking), dan memverifikasi informasi, melainkan institusi PUI sendiri yang harus didesain agar selalu relevan dengan tiap jaman.
Trajektory Utama PUI
Dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, jejak PUI sudah tidak diragukan lagi. Dari era pra kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan, PUI selalu hadir dalam bingkai merebut kemerdekaan untuk bangsa dan negara. Jiwa dan raga anggota PUI sudah tertanam dalam altar tanah NKRI, para patriot bangsa merelakan dirinya terbaring karena terjangan peluru, daripada melihat bangsanya terjajah hingga kemudian ikut terlibat membangun pondasi dasar negara di sidang BPUPKI.
Keberhasilan pergerakan rute kurva PUI dari awal berdirinya sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi organisasi dan menghindar dari hambatan yang menghalanginya. Gaya gravitasi yang paling menentukan kelangsungan PUI bergerak sesuai arah jaman adalah membangun pondasi-pondasi besar dan strategis.
Pertama, memperkuat identitas dan narasi besar. PUI dengan anggota 20,6 juta (versi Kemenag RI) yang menegaskan sebagai kelompok pembaharu di arus Islam moderat atau nama Jama’ah al-Ishlah al-Wasathiyah harus jadi identitas kuat dan mengakar. Tradisi keagaman, tajdid yang berasa dari bahasa Arab, jaddada-yujaddidu-tajdiidan artinya pembaharu atau menjadi baru dan model sintesis PUI merefleksikan berada dalam posisi pertengahan. Dalam bahasa cendekiawan PUI, Prof. Dr. Achmad Kholiq, M.Ag., bahwa relevansi pemikiran PUI dalam banyak hal berorientasi pada tujuan syariah (maqashid syariah).
Produk pemikiran keislaman PUI yang hidup di Indonesia dengan arus pemikiran beragam, perlu beradaptasi dan sejalan dengan Islam jalan tengah. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan (hifz nafs), menjaga pemurnian agama (hifz ad-din), memelihara masa depan bangsa dalam hal pemikiran (hifz aql), menjaga harta kekayaan alam bangsa (hifz mal) untuk dipergunakan bagi kemaslahatan masyarakat luas dan menjaga keturunan (hifz nasl) melalui pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang unggul dan mengglobal sebagai tempat tumbuhnya kader-kader unggulan.
Selanjutnya, PUI yang hingga era digital sekarang masih berdiri tegak, harus membangun branding sebagai organisasi modern dengan tanpa melupakan pijakan sejarahnya. Struktur dan kader PUI tidak gagap dengan percepatan teknologi. Cakap beradaptasi dan ikut memproduksi ide dan gagasan dalam platform digital. Kegiatan, diskusi, ceramah, dan pengajaran harus berbasis digital. Tidak lagi gagap dan ketinggalan selera Generasi Z (Gen Z) dan Milenial (mayoritas anggota PUI sekarang) yang hampir separuh hidupnya bergantung dengan layar gawai digital.
Pondasi lainnya dalam memperkuat identitas ke-PUI-an yaitu memperteguh pemahaman kader terhadap sejarah, visi dan misi PUI. Pondasi ini merupakan langkah strategis dalam menjaga kesinambungan dan kemurnian arah perjuangan organisasi. Sejarah PUI yang mengandung nilai-nilai perjuangan, semangat dakwah, serta komitmen membangun bangsa melalui pendidikan dan sosial keumatan semestinya diwariskan secara utuh kepada semua kader di berbagai lapisan. Dengan memahami akar sejarah tersebut, kader tidak hanya mengetahui asal-usul organisasi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral untuk melanjutkan cita-cita para pendiri dengan penuh dedikasi dan integritas.
Di sisi lain, pemahaman yang mendalam terhadap visi dan misi PUI akan membentuk kader yang memiliki arah gerak yang jelas dan selaras dengan tujuan organisasi. Visi menjadi gambaran besar tentang masa depan yang ingin diwujudkan, sedangkan misi menjadi panduan operasional dalam menjalankan program dan aktivitas nyata di tengah masyarakat yang berasal dari Rencana Strategis PUI. Ketika sejarah, visi, dan misi dipahami secara menyeluruh, kader akan mampu bergerak secara solid, terarah, dan konsisten, sehingga perjuangan PUI tetap relevan dan berdampak bagi umat dan bangsa.
*) Penulis adalah Sekretaris Jenderal DPP PUI



