SERI REFLEKSI AKHIR TAHUN PUI MENUJU INDONESIA EMAS 2045

Oleh: Rita Juniarty
Ketua Lembaga Ketahanan Keluarga
DPP Wanita Persatuan Ummat Islam
Seri 1 : PUI, Ketahanan Keluarga, dan Masa Depan Bangsa
Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari keluarga yang rapuh. Di tengah meningkatnya perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, krisis pengasuhan, dan disorientasi nilai pada generasi muda, ketahanan keluarga menjadi isu strategis pembangunan nasional yang sering luput dari perhatian kebijakan negara.
PUI memiliki tantangan sekaligus peluang besar di sini. Selama ini, dakwah keluarga sering berhenti pada nasihat normatif, belum sepenuhnya terintegrasi menjadi gerakan sistemik. Tantangan PUI ke depan adalah mentransformasikan dakwah keluarga menjadi agenda peradaban, bukan sekadar agenda moral.
Menuju 2045, PUI dituntut memperkuat perannya dalam:
edukasi pranikah dan penguatan keluarga muda,
pendampingan pengasuhan anak dan remaja,
serta penguatan peran ibu sebagai pilar ketahanan umat.
Tanpa keluarga yang tangguh, bonus demografi akan berubah menjadi bencana sosial. Di sinilah PUI memikul tanggung jawab sejarah: memastikan pembangunan bangsa bertumpu pada fondasi keluarga yang berdaya, bermartabat, dan berakhlak.
Seri 2 : PUI dan Tantangan Pendidikan Umat di Era Disrupsi
Pendidikan menjadi jantung visi Indonesia Emas 2045. Namun tantangan pendidikan umat hari ini bukan semata akses, melainkan relevansi dan nilai. Sekolah dan lembaga pendidikan menghadapi tekanan globalisasi, digitalisasi, dan komersialisasi, sementara karakter dan adab sering tersisih.
Sebagai ormas yang lahir dari tradisi pendidikan, PUI menghadapi tantangan besar: apakah lembaga-lembaga pendidikannya mampu menjawab kebutuhan zaman, atau tertinggal dalam pola lama yang tidak adaptif?
Tantangan PUI ke depan meliputi:
peningkatan kualitas SDM pendidik dan pengelola lembaga,
integrasi nilai Islam dengan kompetensi abad ke-21,
serta pemanfaatan teknologi tanpa kehilangan ruh pendidikan.
PUI harus berani melangkah dari pendidikan administratif menuju pendidikan transformatif—yang melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Seri 3 : PUI, Umat, dan Krisis Nilai Generasi Muda
Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang cepat, terbuka, dan penuh distraksi. Krisis identitas, melemahnya otoritas nilai, serta menjauhnya generasi muda dari institusi keagamaan menjadi tantangan nyata ormas Islam, termasuk PUI.
Pendekatan dakwah yang terlalu formal dan seragam tidak lagi memadai. Tantangan PUI adalah mendekati generasi muda tanpa kehilangan prinsip, serta menghadirkan Islam sebagai solusi hidup, bukan sekadar identitas simbolik.
Menuju 2045, PUI perlu:
mengembangkan dakwah kreatif berbasis digital dan komunitas,
membangun ruang dialog yang sehat bagi generasi muda,
serta menyiapkan kader muda yang tidak hanya loyal secara struktural, tetapi juga unggul secara intelektual dan sosial.
Jika PUI gagal menjangkau generasi muda hari ini, maka PUI akan kehilangan masa depannya sendiri.
Seri 4 : PUI sebagai Kekuatan Moral dan Mitra Kritis Negara
Indonesia Emas 2045 membutuhkan kekuatan moral yang mampu menjaga arah pembangunan. Dalam konteks ini, PUI menghadapi tantangan penting: bagaimana bersikap terhadap negara dan kekuasaan.
PUI tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem: menjadi oposisi destruktif atau menjadi organisasi yang kehilangan daya kritis. Tantangan PUI adalah meneguhkan posisinya sebagai mitra kritis negara—mendukung kebijakan yang berpihak pada umat, sekaligus berani mengoreksi kebijakan yang menjauh dari keadilan sosial.
Peran ini menuntut PUI memperkuat:
kapasitas advokasi kebijakan publik,
argumentasi keislaman yang kontekstual dan solutif,
serta integritas moral dalam seluruh lini organisasi.
Dengan posisi ini, PUI tidak hanya menjaga kepentingan umat, tetapi juga berkontribusi langsung pada arah peradaban bangsa.
Penutup Seri: Dari Tantangan Menuju Kebangkitan Peran PUI
Keempat refleksi ini menegaskan satu kesimpulan besar: tantangan PUI menuju Indonesia Emas 2045 bersifat struktural, kultural, dan ideologis sekaligus. Namun di balik tantangan itu tersimpan peluang besar bagi PUI untuk meneguhkan kembali perannya sebagai ormas Islam yang berdaya guna, relevan, dan berpengaruh.
Tahun-tahun ke depan harus menjadi fase konsolidasi, transformasi, dan keberanian moral PUI. Bukan sekadar menjaga eksistensi organisasi, tetapi memastikan bahwa PUI benar-benar hadir dalam denyut pembangunan bangsa dan kehidupan umat.



