
Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan
Kalau kita memperhatikan sebuah pesantren yang santrinya rapi, tertib, dan disiplin, ini ternjadi bukan karena mereka takut dihukum, tapi karena mereka melihat contoh langsung dari gurunya.
Saya baru saja membaca hasil penelitian tentang Pondok Pesantren Rafah di Bogor. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Universitas Darunnajah, termasuk saya sendiri. Kami ingin menjawab satu pertanyaan sederhana: bagaimana seorang kiai membangun budaya disiplin dalam organisasi santri?
Jawabannya ternyata tidak rumit. Kiai tidak perlu meneriakkan peraturan setiap hari. Ia tidak perlu menyebar memo atau rapat terus-menerus. Cukup satu cara: menjadi teladan.
Kiai yang Menjadi Imam, Bukan Sekadar Panglima
Di Pesantren Rafah, KH Muhammad Nasir Zein, MA, tidak hanya memberi perintah. Ia turun langsung. Setiap waktu shalat, ia menjadi imam di masjid. Ia memimpin shalat berjamaah, lalu setelah itu ia memperhatikan siapa yang tidak hadir. Jika ada yang bolos, ia panggil ke rumahnya. Bukan untuk memarahi, tapi untuk memberi nasihat.
Luar biasa. Seorang kiai yang sibuk mengurus ratusan santri, masih sempat memeriksa siapa yang shalat di masjid dan siapa yang tidak. Ini bukan sekadar pengawasan. Ini adalah perhatian personal.
Salah satu pengurus pesantren bercerita: “Ketika kiai menegur, ada aura yang berbeda. Tidak seperti ditegur guru biasa.” Santri jadi segan, bukan karena takut, tapi karena hormat. Mereka tahu kiai tidak hanya bicara, tapi juga melakukan.
Dalam kerangka organisme pesantren, ini adalah sistem imun. Ketika pemimpin memberikan teladan, nilai-nilai disiplin meresap ke seluruh jaringan. Tidak perlu paksaan. Tidak perlu ancaman. Contoh langsung dari pemimpin adalah antibodi paling kuat melawan kemalasan dan kelalaian.
Aturan Tertulis, Hukuman Kreatif, dan Keteladanan
Penelitian kami menemukan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan kiai dalam membangun disiplin santri.
Pertama, aturan tertulis. Pesantren Rafah memiliki aturan yang jelas. Semua peraturan dibuat melalui musyawarah antara kiai dan pengurus. Setiap perubahan dibacakan di depan seluruh santri. Tidak ada aturan yang tiba-tiba muncul tanpa sosialisasi.
Kedua, hukuman yang kreatif. Untuk pelanggaran ringan seperti terlambat, santri diberi hukuman menulis ayat Al-Qur’an atau ditahan di ruang khusus. Untuk pelanggaran sedang seperti bolos kegiatan, mereka dicukur gundul. Untuk pelanggaran berat seperti memukul teman, mereka bisa dikembalikan ke orang tua.
Semua hukuman ini tercantum dalam standar operasional yang disebut Mu’jam Iqob. Tujuannya bukan untuk menyiksa, tapi untuk mendidik. Saya suka prinsip ini: hukuman adalah sekolah, bukan balas dendam.
Ketiga, dan yang terpenting: keteladanan. Para guru dan kiai sendiri tinggal di dalam pesantren. Apa yang mereka lakukan, dilihat oleh santri setiap hari. Kiai Rafah tidak hanya menyuruh santri shalat berjamaah, ia sendiri yang menjadi imam. Ia tidak hanya melarang terlambat, ia sendiri selalu datang lebih awal.
Sebuah Kelemahan: Tidak Ada Reward
Sayangnya, penelitian kami juga menemukan satu celah. Pesantren Rafah belum memiliki sistem penghargaan untuk santri yang berdisiplin baik. Pendekatan mereka masih berat pada hukuman. Padahal, dalam manajemen modern, reward dan punishment adalah dua sisi mata uang yang sama pentingnya.
Tapi mungkin di pesantren, pahala dari Allah sudah dianggap sebagai reward tertinggi. Wallahu a’lam.
Kiai Bukan Manajer, Tapi Teladan Hidup
Saya sering berkata pada rekan-rekan pengelola pesantren, jangan hanya sibuk membuat aturan. Aturan tanpa teladan hanya akan melahirkan kepatuhan semu. Santri akan patuh saat diawasi, tapi begitu pengawas pergi, mereka akan kembali ke kebiasaan lama.
Di Pesantren Rafah, kiai tidak perlu banyak kata. Ia cukup menjadi imam shalat, hadir di setiap kegiatan, dan menegur dengan lembut. Dari situlah budaya disiplin tumbuh. Bukan karena paksaan, tapi karena rasa hormat dan cinta.
Inilah pelajaran bagi kita, para pemimpin di lembaga mana pun. Jangan terlalu sibuk menyusun struktur dan menulis aturan. Luangkan waktu untuk menjadi contoh. Karena pemimpin yang baik bukan yang paling pintar menyusun strategi, tapi yang paling mampu membuat orang lain bergerak tanpa merasa diperintah.
Wallahu a’lam.
—
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.



