Kabar NasionalLazis PUI

Lazis PUI Dorong Dashboard Filantropi Nasional dalam Forum Penguatan Gerakan Filantropi Islam

Jakarta – Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Persatuan Ummat Islam (Lazis PUI) menghadiri Forum Penguatan Gerakan Filantropi Islam yang diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund Majelis Ulama Indonesia (IsDF-MUI) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).

Forum tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antar lembaga amil zakat (LAZ) nasional dalam membangun ekosistem zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) yang lebih terintegrasi, efektif, dan berdampak luas bagi kemaslahatan umat.

Ketua IsDF MUI, Trisna Ningsih Yuliati, menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh 24 LAZ nasional dari total 32 LAZ yang diundang, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Tingginya antusiasme peserta menunjukkan adanya semangat besar untuk membangun kolaborasi strategis antar lembaga filantropi Islam.

Menurut Trisna, IsDF memiliki visi yang sejalan dengan berbagai LAZ, khususnya dalam pemberdayaan umat melalui pengelolaan dana ziswaf yang profesional, terarah, dan berkelanjutan.

“Program-program yang kami miliki akan kami sandingkan dengan program LAZ. Dari situ kita bisa melihat peluang sinergi, sehingga seluruh LAZ dapat bekerja sama dengan MUI melalui IsDF,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, perwakilan Lazis PUI, Ahmad Gabriel, menyampaikan pandangan strategis mengenai pentingnya kolaborasi antar lembaga filantropi Islam sebagai fondasi utama penguatan gerakan ziswaf nasional.

Menurutnya, tantangan sosial umat hari ini tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan orkestrasi bersama antar lembaga agar bantuan dapat lebih merata, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

“Kolaborasi antar LAZ dan seluruh elemen filantropi Islam adalah sebuah keniscayaan, bahkan mutlak diperlukan. Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam membantu umat. Justru dengan saling menguatkan, berbagi peran, dan membangun kepercayaan bersama, kita akan mampu menghadirkan solusi yang lebih besar bagi masyarakat yang masih lemah dan membutuhkan pertolongan,” tegas Ahmad Gabriel.

Ia menambahkan bahwa semangat kompetisi antar lembaga harus diubah menjadi semangat kolaborasi dan integrasi untuk memperbesar dampak sosial.

“Filantropi bukan soal siapa yang paling besar menghimpun, tetapi siapa yang paling luas menghadirkan manfaat. Ketika LAZ saling bersinergi, maka umatlah yang akan merasakan keberkahan dan kekuatannya,” lanjutnya.

Sebagai bentuk gagasan konkret, Ahmad Gabriel juga mengusulkan dibangunnya sebuah sistem filantropi nasional berbasis digital yang dapat menampilkan dashboard ZISWAF dari seluruh program LAZ di Indonesia.

Menurutnya, sistem tersebut akan menjadi instrumen penting untuk memperkuat transparansi, pemetaan program, dan ruang kolaborasi antar lembaga.

“Kita perlu membangun dashboard filantropi nasional yang memuat seluruh program ZISWAF dari berbagai LAZ. Dengan sistem itu, kita bisa melihat siapa mengerjakan apa, di mana titik kekosongan pelayanan umat, dan di mana peluang kolaborasi bisa dibangun. Jangan sampai ada wilayah yang menumpuk bantuan, sementara wilayah lain justru luput dari perhatian,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dashboard nasional tersebut bukan sekadar alat pelaporan, tetapi menjadi peta besar gerakan filantropi Islam Indonesia agar lebih terukur, akuntabel, dan strategis.

Lazis PUI menyambut baik inisiatif IsDF-MUI yang ingin menjadikan MUI sebagai rumah besar bagi seluruh LAZ nasional. Dengan adanya wadah bersama tersebut, koordinasi, sinergi program, dan penguatan peran filantropi Islam diyakini akan semakin kokoh.

Forum ini juga menjadi penegasan bahwa masa depan filantropi Islam bukan hanya pada besarnya penghimpunan dana, tetapi pada kuatnya kolaborasi, integrasi program, dan kesungguhan bersama dalam mewujudkan kemaslahatan umat secara berkelanjutan.

Related Articles

Back to top button
PETIR800 LOGIN PETIR800