DakwahOpiniWanita PUI

Wanita PUI : Pilar Sunyi Indonesia Emas 2045

Oleh: Rita Juniarty
Ketua Lembaga Ketahanan Keluarga
DPP Wanita Persatuan Ummat Islam

Refleksi Pengarusutamaan Ketahanan Keluarga dalam Program Kerja Wanita PUI

Pendahuluan : Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045 kerap dibicarakan dalam bahasa ekonomi, teknologi, dan bonus demografi. Namun ada satu fondasi yang sering luput dari perencanaan pembangunan nasional: ketahanan keluarga. Padahal, tidak ada bangsa yang kuat tanpa keluarga yang kokoh, dan tidak ada keluarga yang kokoh tanpa peran strategis perempuan. Di titik inilah Wanita Persatuan Ummat Islam (Wanita PUI) memikul tanggung jawab sejarah yang tidak ringan.
Wanita PUI bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, melainkan aktor kunci pembangunan peradaban dari hulu. Jika negara membangun dari kebijakan dan infrastruktur, maka Wanita PUI membangun dari ruang paling dasar namun paling menentukan: rumah, relasi keluarga, dan pembentukan karakter manusia Indonesia. Inilah kerja sunyi yang dampaknya menentukan arah masa depan bangsa.

Tantangan Zaman: Keluarga di Tengah Tekanan Global

Keluarga Indonesia hari ini berada dalam tekanan multidimensi. Perubahan pola relasi suami-istri, krisis pengasuhan, meningkatnya kerentanan perempuan dan anak, disrupsi digital, hingga melemahnya fungsi edukatif keluarga menjadi persoalan nyata. Banyak keluarga masih bertahan secara formal, tetapi rapuh secara nilai dan fungsi.
Dalam konteks ini, dakwah keluarga tidak lagi cukup disampaikan dalam bentuk nasihat moral yang normatif. Tantangan ke depan adalah mentransformasikan isu keluarga menjadi agenda strategis umat dan bangsa, dengan pendekatan yang sistemik, solutif, dan berkelanjutan. Wanita PUI dituntut melampaui peran tradisional yang sering direduksi pada aktivitas seremonial. Ia harus tampil sebagai subjek perubahan sosial—pendidik generasi, penjaga nilai, sekaligus agen ketahanan umat.

Wanita PUI: Dari Peran Domestik ke Kepemimpinan Sosial

Peran perempuan dalam pembangunan bangsa tidak boleh dipersempit dalam dikotomi “domestik” versus “publik”. Dalam perspektif PUI, perempuan adalah penentu kualitas generasi, baik di ruang keluarga maupun ruang sosial. Tantangan Wanita PUI adalah mengintegrasikan dua ruang ini secara harmonis dan produktif.
Menuju Indonesia Emas 2045, Wanita PUI memiliki peran strategis dalam penguatan kapasitas ibu sebagai pendidik pertama dan utama, pendampingan perempuan pra-nikah dan keluarga muda, peningkatan literasi kesehatan dan ekonomi keluarga, serta penguatan kepemimpinan perempuan berbasis nilai keislaman dan kebangsaan.
Wanita PUI harus tampil sebagai role model perempuan berdaya, bukan sekadar simbol keterwakilan. Pemberdayaan perempuan yang tercerabut dari nilai justru berpotensi melemahkan keluarga. Sebaliknya, penguatan perempuan berbasis nilai Islam akan memperkokoh keluarga sekaligus meningkatkan kualitas sosial bangsa.

Lembaga Ketahanan Keluarga: Dari Wacana ke Sistem Solutif

Kehadiran Lembaga Ketahanan Keluarga (LKK) di tubuh Wanita PUI merupakan langkah strategis yang visioner. Namun tantangan besarnya adalah memastikan LKK tidak berhenti sebagai lembaga normatif, melainkan berkembang menjadi pusat gerakan ketahanan keluarga yang terstruktur, solutif, dan berdampak nyata.
LKK dituntut bergerak dari pendekatan reaktif menuju preventif, promotif, dan solutif. Artinya, LKK tidak hanya hadir ketika keluarga telah berada dalam kondisi bermasalah, tetapi aktif membangun sistem edukasi dan pendampingan keluarga yang berkesinambungan sejak dini—mulai dari fase pra-nikah, kehamilan, pengasuhan anak, pendampingan remaja, hingga lansia.
Pendekatan solutif menempatkan LKK bukan sekadar sebagai “menangani masalah”, melainkan sebagai penyedia jalan keluar yang nyata dan aplikatif. LKK hadir membekali keluarga dengan keterampilan pengasuhan yang tepat, komunikasi keluarga yang sehat, literasi kesehatan dan ekonomi keluarga, serta kemampuan menghadapi tantangan sosial dan digital secara bijak. Dengan demikian, keluarga tidak diposisikan sebagai objek yang disalahkan, melainkan sebagai subjek yang diberdayakan untuk tumbuh, tangguh, dan berdaya.
Ketahanan keluarga karena itu tidak boleh dipahami sebagai urusan privat semata, melainkan sebagai isu strategis nasional yang menentukan kualitas sumber daya manusia dan arah peradaban bangsa.

Pedoman Ketahanan Keluarga Klaster Pendidikan PUI: Fondasi Aksi Nyata Komitmen Wanita PUI

Untuk membangun ketahanan keluarga tidak berhenti pada tataran refleksi dan wacana. Hal ini ditegaskan melalui peluncuran dan implementasi Buku Pedoman Ketahanan Keluarga Klaster Pendidikan PUI sebagai tonggak penting transformasi gagasan menjadi gerakan nyata.
Buku pedoman ini menandai keseriusan Wanita PUI dalam menempatkan pendidikan keluarga sebagai jantung ketahanan umat. Pendidikan tidak dipahami semata sebagai urusan sekolah dan institusi formal, melainkan sebagai proses berkelanjutan yang berakar dari keluarga—dari pola asuh, keteladanan nilai, komunikasi orang tua-anak, hingga pembentukan karakter dan adab generasi.
Pemilihan klaster pendidikan sebagai pijakan awal bukan tanpa alasan. Di sanalah fondasi Indonesia Emas 2045 sesungguhnya dibentuk. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah jika generasi tumbuh dalam keluarga yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Tanpa pendidikan keluarga yang kuat, keunggulan jumlah justru dapat berubah menjadi beban sosial.
Dengan hadirnya pedoman ini, ketahanan keluarga tidak lagi menjadi slogan moral, tetapi agenda sistemik yang memiliki arah, metodologi, dan panduan implementatif. Implementasi pedoman ini di berbagai lini organisasi dan basis umat menandai pergeseran penting peran Wanita PUI: dari penggerak kegiatan insidental menjadi arsitek ekosistem pendidikan keluarga; dari respons terhadap masalah menjadi upaya pencegahan dan penguatan sejak dini.
Dalam konteks ini, LKK berfungsi sebagai motor penggerak, sementara Buku Pedoman Ketahanan Keluarga Klaster Pendidikan PUI menjadi peta jalan yang menyatukan visi, nilai, dan langkah kerja. Inilah bentuk konkret kontribusi Wanita PUI terhadap pembangunan nasional—membangun manusia Indonesia dari hulu, dengan pendekatan yang berakar pada nilai Islam dan realitas sosial.

Wanita PUI dan Generasi Emas

Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini. Wanita PUI berada di garis depan pembentukan generasi tersebut. Tantangan ke depan adalah membangun sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan negara agar pembinaan generasi tidak berjalan parsial.
Isu pernikahan usia anak, krisis identitas remaja, kecanduan gawai, degradasi adab, hingga melemahnya keteladanan harus dijawab dengan pendekatan keluarga yang kuat dan berkelanjutan. Melalui Pedoman Ketahanan Keluarga klaster pendidikan, Wanita PUI menawarkan pendekatan yang lebih utuh—berbasis nilai, kontekstual, dan berorientasi masa depan.

Penutup: Dari Kerja Sunyi Menuju Peradaban Emas

Refleksi ini menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari keluarga yang rapuh dan perempuan yang terpinggirkan. Wanita PUI memegang peran kunci dalam memastikan pembangunan bangsa tidak kehilangan ruh kemanusiaan dan nilai keislaman.
Peluncuran dan implementasi Buku Pedoman Ketahanan Keluarga Klaster Pendidikan PUI mempertegas bahwa Wanita PUI tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi sedang menyiapkan fondasinya hari ini. Dari rumah-rumah sederhana, dari peran perempuan yang sering tak terlihat, dari kerja sunyi yang konsisten—masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dibentuk.

Related Articles

Back to top button